Jakarta, TopBusiness – PT United Tractors Tbk (UT) memiliki sejumlah program tanggung jawab sosial perusahaan alias CSR yang memberi dampak luas terhadap aspek sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.
Program CSR UT juga mendukung pencapaian target pemerintah yang ditetapkan dalam Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Ada beberapa program CSR unggulan UT antara lain Program Berdaya Bersama dan UT Youth Movement (UTYM).
Saidina Malik Harahap, CSR Analyst UT menjelaskan, Program Berdaya Bersama merupakan program pendampingan dan pelatihan yang berfokus di bidang sosial entrepreneurship dan kesehatan masyarakat.
Kegiatan ini ditujukan kepada ibu-ibu kader Posyandu/Posbindu binaan yang telah memiliki usaha kemandirian ekonomi baik yang baru merintis maupun sudah berjalan.
“Melalui program ini, UT memberikan pendampingan secara intensif kepada peserta yang tergabung pada kelas pelatihan secara hybrid,” ujar Malik dalam presentasi penjurian TOP CSR Awards 2023 yang dilakukan secara daring, Selasa (4/4/2023).
Tim UT yang hadir dalam penjurian ini ada Himawan Sutanto (SR Com Department Head), Dimas Aryo Wb (CSR Leader), dan Meyta Hutapea (Corcom Leader)
Program Berdaya Bersama ini dilakukan mengingat adanya dampak ekonomi dan kesehatan akibat pandemi covid-19 yang terjadi sejak 2020. Berdasarkan data, pada masa pandemi, 82,9 persen pelaku UMKM mengalami dampak negatif. Selain itu, 94,69 persen pelaku usaha mengalami penurunan penjualan.
Untuk yang terkait kesehatan, UT menyelenggarakan Posyandu dan Posbindu karena selama pandemi 83,9 persen pelayanan kesehatan dasar tidak bisa berjalan optimal. Selain itu, kasus gizi buruk tidak terdata atau termonitor sehingga dapat meningkatkan angka kematian bayi.
Ada 37 kader Posyandu dan Posbindu atau Kader Srikandi Lestari yang terpilih mengikuti inkubasi selama 5 kali kelas online via zoom sejak 7 Agustus 2022 hingga Oktober 2022. Tema atau materi yang disampaikan dalam kelas online tersebut antara lain pengantar bisnis, pengenalan social entrepreneur, membangun usaha dari nol, mengimplementasikan BMC dan manajemen keuangan usaha pemula, memahami analisis usaha sederhana, serta pemanfaatan digital marketing.
Program Berdaya Bersama ini berhasil menciptakan sistem organisasi Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang berkelanjutan di ring-1 UTCM. Program ini juga menjadi amplifikasi penerima manfaat oleh para kader Srikandi Lestari melalui program champion UT.
“Dengan program ini, UT menjadi perusahaan yang memberdayakan wanita dalam misi sosial dan menerapkan prinsip Diversity, Equity & Inclusion (DEI),” kata Malik.
Program Berdaya Bersama ini juga untuk meningkatkan engagement stakeholder sehingga menjadikan UT sebagai perusahaan yang top-of-mind di benak stakeholder.
Untuk program CSR UT Youth Movement (UTYM), Malik menjelaskan bahwa itu merupakan komunitas kader kesehatan promotif dan preventif yang diharapkan mampu menjadi solusi dalam penanggulangan permasalahan kesehatan remaja.
“Dalam kegiatan UTYM, para kader siswa mengikuti pelatihan online, pendampingan dan asesmen, inisiasi komunitas tingkat nasional hingga kompetisi komunitas sekolah,” ujar Malik.
Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi UTYM menjadi program CSR unggulan UT. Pertama adalah remaja sebagai bagian dari pemuda, merupakan kelompok umur terbesar struktur penduduk Indonesia yang menjadi fokus perhatian dan titik intervensi yang strategis bagi pembangunan sumber daya manusia (SDM).
“Demi terwujudnya target Generasi Emas 2045, pengelolaan Pendidikan, Kesehatan dan Budaya harus dilaksanakan dengan optimal, khususnya menuju periode bonus demografi Indonesia tahun 2030,” tutur Malik.
Terlebih, di tahun 2030 nantinya, jumlah angkatan kerja diprediksi mencapai 71 persen usia produktif yang akan diisi oleh SDM yang unggul dan berdaya saing. “Dibutuhkan peran dari banyak sektor lainnya membantu upaya pemerintah mengatasi beberapa masalah kesehatan remaja yang terjadi di Indonesia,” kata dia.
Di sisi lain, remaja Indonesia saat ini mengalami berbagai masalah kesehatan, baik gizi, kesehatan diri, kesehatan mental dan emosional, penggunaan obat terlarang, dan kesehatan reproduksi.
Dalam Program UTYM ini, UT menggelar 4 sesi pelatihan penguatan soft skill yang diikuti 171 peserta remaja dan melibatkan 68 sekolah. Selain itu ada talk show tentang Mental Health, Physical Health, dan Nutrition Health. Ada pula Sesi Roadshow , Sesi Camp serta Sesi Fasilitator tentang Mental Health dan Upgrading Basic Skills.
Secara total, Program UTYM ini ada 3 sesi Talkshow, 6 Sesi Roadshow, 4 Sesi Fasilitator, 3 Sesi Camp, dengan 523 orang penerima manfaat. Peserta Sesi Camp ada 64 orang dan Sesi Fasilitator diikuti 40 orang, sedangkan Panitia sebanyak 29 orang.
Program UTYM juga ada pembinaan sekolah sehat, dengan kegiatan antara lain Kompetisi Inovasi Sekolah Sehat dan Webinar membangun inovasi sekolah sehat. Dalam kegiatan ini ada tiga sesi, 6 finalis sekolah dan 156 peserta.
Masih terkait Program UTYM, Tim CSR UT melakukan Aksi Lapangan Penyuluhan Kesehatan yang menyasar kelompok remaja berisiko tinggi. Kegiatan ini antara lain dilakukan di LPKA Kelas II Bandung. Ada pula kegiatan Webinar Kesehatan Reproduksi Orang Tua dan Anak dengan Disabilitas. Kegiatan tersebut diikuti 3.705 peserta dengan melibatkan 70 fasilitator.
Hasil Pengukuran SROI
Menurut Malik, hasil analisa SROI (Social Return on Investment) atas dampak yang dilakukan menunjukan seluruh pemangku kepentingan secara umum merasakan adanya perubahan positif dari adanya Program UTYM sejak tahun 2021.
SROI Ratio UTYM sebesar 7,52:1. Sedangkan present value of benefits untuk implementasi program selama 6 bulan pertama di tahun 2021 mencapai Rp 946.139.638, dan value of investment Rp 125,75 juta. .
“Program UT Youth Movement memperoleh SROI ratio sebesar 7,52 : 1 pada tahun 2021. Dapat diinterpretasikan bahwa program ini dapat memberi dampak sekitar 7,52 rupiah untuk setiap rupiah yang diinvestasikan UT,” ujar Malik.
Diakui bahwa dalam cakupan perhitungan hanya 1 tahun sejak dimulainya implementasi program, rasio ini tergolong tinggi sebagai suatu bentuk investasi dampak.
Program CSR UT juga memberikan kontribusi terhadap target RPJMN, terutama menyangkut Gerakan Masyarakat Hidup Sehat di Sekolah. Berdasarkan parameter penerima manfaat, target RPJMN 2024 untuk Germas di Sekolah sebanyak 73.198.319 peserta didik. Sedangkan pencapaian dari Program UTYM sebanyak 6.322 peserta didik atau 0,009 persen.
Untuk parameter Implementasi Sekolah Sehat, target RPJMN 2024 untuk Program Germas di Sekolah sebanyak 654.494 sekolah. Untuk Program UTYM melibatkan 30 sekolah atau 0,005 persen.
Program CSR UT juga berhasil mengurangi pengeluaran biaya oleh pemerintah untuk pengobatan pasien terpapar Covid-19, anak yang dilahirkan stunting dan resiko menderita Penyakit Tidak Menular (PTM) akibat gaya hidup tidak sehat untuk seluruh penerima manfaat langsung.
Dari perhitungan simulasi,menurut Malik, dengan investasi biaya CSR perusahaan atas program 2021-2022 sebesar Rp 638.000.000 untuk coverage 6.322 penerima manfaat, diperkirakan dapat membantu menekan biaya yang dikeluarkan pemerintah dalam menangani masalah kesehatan masyarakat yang berpotensi muncul pada jangka pendek-panjang sebesar minimal Rp 2,8 triliun.
