Jakarta, TopBusiness – Seiring perannya sebagai salah satu BUMD andalan dalam perkembangan UMKM di Jawa Timur, penerapan GRC (Governance, Risk, and Compliance) yang baik juga terus digenjot oleh Bank BPR Jatim – Bank UMKM Jawa Timur.
Hal itu seperti diungkap Mohamad Amin, selaku Direktur Kepatuhan Bank UMKM Jawa Timur saat sesi penjurian TOP GRC Awards 2023 yang digelar secara virtual pada Selasa (25/7/2023) lalu.
“Terkait dengan governance, ini tentunya menjadi kewajiban kita untuk bagaimana menerapkan tata kelola yang baik,” ujarnya.
Tidak berhenti sampai di situ, terkait tata kelola yang dijalankan, Mohamad Amin menuturkan bahwa Bank UMKM Jawa Timur juga diwajibkan untuk melakukan pelaporan ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Termasuk juga dalam menyusun struktur organisasi, infrastruktur kebijakan, proses penyedian SDM yang cukup, termasuk penerapan IT dan juga lingkungan, serta dari sisi outcome-nya.
“Terkait dengan digitalisasi, kita sudah memiliki roadmap, jadi tahun 2023 di Q1, Q2, Q3, Q4, apa yang harus kita lakukan, kita sudah canangkan ini dan sudah berjalan,” ungkapnya.
Masih seputar upaya perusahaan dalam penerapan GRC yang baik, hal penting yang juga dilakukan Bank UMKM Jawa Timur adalah dengan pembentukan struktur organisasi. Dalam pembentukan struktur organisasi perusahaan, Bank UMKM Jawa Timur juga sudah mengacu pada POJK, Undang-Undang Perseroan Terbatas, dan Undang-Undang Perbankan.
“Kita sudah masukan semua di situ (struktur organisasinya) cukup lengkap, ada komisaris, ada direksi, kemudian perangkat, juga ada komite-komitenya. Kita lengkapi bagaimana kemudian roda organisasi ini minimal sesuai dengan rule yang ditetapkan oleh eksternal, baik undang-undang maupun POJK, maupun peraturan perundangan yang lain, kita lengkapi dan juga kita implementasikan,” kata Mohamad Amin.
“Di dalamnya tentunya ada satuan kerja Audit Internal, kemudian juga ada Satker Manajamen Risiko, Komite Reward dan Punishment, Komite Kepegawaian, Komite Pemantau Risiko, Satker Kepatuhan, Komite Manajeman Risiko yang juga melibatkan direksi, Aset Liabilities Commite (ALCO), serta Komite Kredit dan Komite Audit,” sambungnya.
Bank UMKM Jawa Timur telah memiliki struktur dewan komisaris lengkap, ada empat yang kesemuanya merupakan komisaris independen. “Ini akan memberikan warna tersendiri bagaimana kita mengelola bisnis ini dengan baik, tapi dengan tata kelola yang kita penuhi semuanya,” ujarnya.
Nah, tidak ketinggalan dalam paparannya di hadapan dewan juri, Mohamad Amin juga mengungkap perihal implementasi GCG (Good Corporate Governance). Dalam hal ini Bank UMKM Jawa Timur disebut telah menerapkan Three Line of Defences.
“Terkait dengan self assessment tata kelola, Alhamdulillah tahun 2020 nilai kita 2,11, kemudian tahun 2021 meningkat 2,15, tahun tahun 2022 meningkat menjadi 1,95. Dari sisi nilai kita selalu ada improvement/perbaikan di posisi di posisi 1,95. Apalagi nanti, per tahun 2003 komisaris sudah lengkap, sehingga nanti akan menambah lagi nilai tata kelola kita,” kata Mohamad Amin.
Menyinggung soal manajemen risiko, dikatakan Mohomad Amin, bahwasanya dikarenakan nilai asset perusahaan yang cukup besar, Bank UMKM Jawa Timur hasur meng-cover enam aspek manajemen risiko, antara lain Risiko Kredit, Risiko Operasional, Risiko Kepatuhan, Risiko Likuiditas, Risiko Reputasi, dan Risiko Stratejik. Berdasarkan penilaian terhadap Risiko inheren dan KPMR, maka profil risiko Bank BPR Jatim pada posisi Desember 2022 memiliki peringkat 2 (Rendah).
Untuk diketahui, dari sisi asset dari BPR yang ada di Indonesia, Bank UMKM Jawa Timur berada di posisi ketiga. “Alhamdulillah posisi kita aset sudah tumbuh Rp3,088 triliun,” ungkap Mohamad Yamin.
Masih soal manajemen risiko, disebutkan bahwasanya dalam rangka menjaga bisnis agar berjalan dengan baik tetapi tetap memenuhi (meng-cover) risiko-risiko atau mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi, Bank UMKM Jawa Timur mamiliki apa yang disebut sebagai Komite Manajemen Risiko.
Di komite inilah dibahas hal-hal terkait bisnis dan kebijakan, serta keputusan yang diambil terkait manajemen risiko.
Masuk dari bagian penerapan GRC di Bank UMKM Jawa Timur adalah terkait dengan pengadaan barang dan jasa, yang sudah diatur bagaimana agar pengadaan barang jasa memenuhi tata kelola.
“Sehingga, nanti dari pengadaan barang dan jasa yang cukup besar itu bisa memenuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan. Tentunya ini yang terkait dengan manajeman risiko dan kepatuhan, kita berharap semuanya bisnis tumbuh tetapi tentunya kita tetap memenuhi peraturan, bagaimana kita mengidentifikasi risiko, indikasi risiko, sampai penanganan risikonya kita melakukan monitoring dan bagaimana tindak lanjut dari risiko-risiko yang mungkin terjadi,” ujarnya.
Secara tegas, Mohamad Amin mengatakan bahwa Bank UMKM Jawa Timur telah menerapkan GRC yang bagus. Di mana selain sudah mengacu pada tata kelola yang diatur dari PJOK maupun peraturan perundangan yang ada, tetapi juga disebut telah mematuhi atau menenuhi apa yang diharapkan oleh shareholder maupun stakeholder yang ada di Bank UMKM ini.
Salah satu buah dari penerapan GRC yang baik, hal itu nampaknya juga terlihat dari rasio Non Performing Loan (NPL) Bank UMKM Jawa Timur yang terus mengalami penurunan.
“Dari sisi NPL, Alhamdulillah dari waktu ke waktu (yang) awalnya 8%, ini turun 7,5%, (kemudian) 6,7%, sampai dengan kita 6,13%. Insya Allah tahun ini kita harapkan bisa di bawah 5%,” pungkasnya.
Penulis: Fauzi
