Jakarta, TopBusiness – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (IDX: TBIG) merupakan salah satu perusahaan menara independen terbesar di Indonesia. Perusahaan induk dari Tower Bersama Group ini didirikan pada 2004 dan sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 26 Oktober 2010.
Bisnis utama TBIG adalah menyewakan tower space pada site sebagai tempat pemasangan perangkat telekomunikasi milik penyewa.
TBIG juga menyediakan akses untuk operator telekomunikasi ke jaringan repeater dan IBS milik TBIG sehingga dapat memancarkan jaringan sistem telekomunikasi pada gedung-gedung yang berada di wilayah perkotaan.
Sebagai perusahaan yang bergerak di industri telekomunikasi, aktivitas bisnis TBIG tidak lepas dari dampak baik lingkungan maupun sosial. Hal itulah yang membuat perseroan berkomitmen untuk terhadap implementasi ESG (Environment, Social, Governance) serta pelaksanaan CSR yang mengacu pada SDGs maupun ISO 26000.
Di bidang lingkungan, TBIG pada 2023 melakukan inventarisasi emisi gas rumah kaca (Scope 1, Scope 2, dan Scope 3) dan telah diverifikasi oleh pihak ketiga (Lloyd Register QA). Ini menjadi sarana evaluasi bagi TBIG untuk selektif dalam melakukan operasional bisnis.
“Kami mungkin satu-satunya di industri kami yang melakukan verifikasi. Mungkin yang lain melakukan green house inventory report, tapi tidak diverifikasi oleh pihak ketiga,” ujar Fahmi S. Alatas, Head of CSR TBIG dalam presentasi penjurian TOP CSR Awards 2024 yang dilakukan secara daring, Rabu (8/5/2024). Hadir pula dalam penjurian ini Yosepha Naftali (CSR Analyst) dan Revfath Syafaat (CSR Analyst).
TBIG juga mendorong para mitra dan karyawan untuk mulai mengontrol produksi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas usaha mereka, sehingga dapat berkontribusi pada pengurangan emisi nasional dan global. Stakeholder program CSR ini adalah investor dan karyawan. “Diharapkan kami bisa mencapai protocol GHG terkait zero emission pada 2040,” ucap Fahmi.
Sebagai bentuk komitmen terhadap penerapan sustainable finance dan green economy, TBIG juga telah melakukan penanaman 5.600 pohon yang bekerja sama dengan Perhutani. Kegiatan ini mendukung penyerapan karbon yang lebih tinggi, mencegah kerusakan lingkungan, dan menjaga compliance perusahaan terhadap isu lingkungan. Sedangkan stakeholder program ini adalah karyawan dan mitra kerja sama kami.
“Bagi karyawan, kami sediakan paket wisata lingkungan setiap tahun untuk hadir di kawasan penanaman pohon ini. Dan sebagian penanaman pohon ini didanai karyawan dengan menukarkan knowledge management point mereka dengan pohon,” tutur Fahmi.
Masih di bidang lingkungan, perseroan juga menjalankan Program CSR Rumah Batik TBIG yang sudah memiliki pengolahan limbah batik mandiri . “Kita memiliki manajemen pengelolaan limbah batik secara berkelanjutan dengan meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat mengenai pencemaran air,” kata dia.
Ciptakan Circular Economy
Inisiatif CSR di bidang lingkungan lainnya adalah TBIG berkolaborasi dengan pihak ketiga, PlasticPay, menciptakan circular economy dengan Reverse Vending Machine berbasis IoT atau internet of things. Vending machine ini berfungsi sebagai platform bagi karyawan TBIG untuk mengumpulkan botol di area lingkungan kantor.
“Program ini meningkatkan kontribusi kegiatan circular economy, dengan pengumpulan sampah botol kemasan air minum. Stakeholder-nya di sini adalah karyawan,” tuturnya.
Selanjutnya inisiatif CSR di bidang sosial, TBIG mengadakan program pelatihan membatik bagi siswa usia produktif dan penyandang disabilitas melalui Rumah Batik. Program CSR ini memperluas kesempatan bagi siswa usia produktif dan penyandang disabilitas dalam mendapatkan pendidikan dan keahlian batik, sehingga meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian mereka dalam hidup bermasyarakat.
“Kita juga membantu pemasarannya. Dan produknya cukup bagus diserap pasar,” Saat ini kita memiliki lima alumni yang sudah mendapat permodalan jangka pendek berbasis pada bagi hasil, sehingga tidak memberatkan,” ujar Fahmi.
Masih di bidang sosial, inisiatif CSR lainnya adalah penyaluran kredit bagi usaha mikro, kecil melalui koperasi binaan TBIG yaitu Koperasi Bangun Bersama (KBB). KBB saat ini sudah beroperasi di tiga kota yaitu Pekalongan, Semarang dan Solo.
Pada 2023, pendanaan yang sudah tersalurkan ke KBB sekitar Rp 3,4 miliar. Penyaluran kredit ini dapat memberikan dampak yang signifikan bagi pengrajin batik di Pekalongan dan pelaku usaha kuliner di Semarang.
“Selain memberikan bantuan permodalan, kami juga melakukan caretaker untuk distribusi produk. Kami membantu distribusi produk mereka dengan menerapkan skema kepastian bayar satu bulan. Ini bisa mempercepat perputaran modal, khususnya usaha batik yang umumnya 6 bulan baru menerima pembayaran dari barang yang didistribusikan,” paparnya.
Jumlah anggota KBB tahun 2023 sebanyak 1.034 anggota dengan 304 usaha mikro. Sedangkan untuk jumlah penerima manfaat program Rumah Batik ada 25 orang.
Inisiatif CSR lainnya adalah TBIG berkolaborasi dengan pihak ketiga membuat Aplikasi KBB Mobile yang berfungsi sebagai platform bagi pelaku UMKM atau nasabah KBB untuk dapat melihat transparasi keuangan dan melakukan transaksi secara cepat. Penggunaan aplikasi mobile ini sudah berjalan 5 tahun.
Berkat aplikasi ini, koperasi binaan TBIG berhasil menjalankan rapat anggota tahunan selama 8 tahun berturut-turut dan mendapat predikat Sehat dari Dinas Koperasi Provinsi Jawa Tengah. “Alhamdulillah KBB selalu untung sehingga bisa membagi SHU ke anggota selama delapan tahun berturut-turut sampai saat ini,” tuturnya.
Di bidang sosial selanjutnya adalah, TBIG memberikan wadah pembelajaran bagi perempuan pelaku usaha kuliner melalui Program Pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh KBB. Bagi perempuan usia produktif lulusan SMA atau SMK yang tidak melanjutkan kuliah, TBIG memberikan pelatihan kuliner.
“Kita juga menyediakan outlet secara gratis kepada mereka di daerah Gunung Pati, Semarang. Kami juga menyediakan container free, jadi setelah mereka selesai pelatihan kami berikan project untuk membuka usaha mikro di bidang kuliner,” kata Fahmi.
TBIG juga memberikan bantuan pelatihan kepada karyawan dan anggota koperasi secara daring melalui Learning Management System (LMS) yang dapat di akses secara gratis, di mana saja dan kapan saja. Bantuan yang diberikan menjadi modal bagi karyawan KBB untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi, serta dapat meningkatkan strata ekonomi anggota KBB.
Sedangkan untuk komunitas mahasiswa, TBIG memberikan wadah pembelajaran koperasi bagi mahasiswa dengan menyediakan edukasi materi koperasi, leadership and social influence, serta analytical thinking and innovation. “Kami memberikan tambahan kompetensi di luar kurikulum pembelajaran koperasi di kuliah, untuk menumbuhkan motivasi generasi muda dalam melestarikan koperasi di Indonesia,” ujarnya.
Masih di bidang sosial, TBIG memberikan akses pelayanan kesehatan secara gratis dengan menggunakan Mobil Klinik (MONIK) yang dilengkapi dengan perlengkapan medis dan tenaga kesehatan yang profesional. Tahun 2023, TBIG memiliki 6 unit mobil klinik dengan penerima manfaat sebanyak 39.600.
Menurut Fahmi, program pelayanan kesehatan gratis ini diharapkan dapat mengatasi dan mengurangi dampak community case yang terjadi di lingkungan site dan meningkatkan mutu serta kualitas kesehatan masyarakat di wilayah sekitar operasional perusahaan.
Tak hanya itu, TBIG juga banyak menyalurkan bantuan sosial kemanusiaan Post-Disaster Recovery berupa bantuan sandang, pangan dan papan untuk korban bencana. Melalui program tanggap bencana, TBIG membantu pemerintah dalam penyaluran bantuan dan mengurangi kerentanan masyarakat terhadap kejadian ekstrem seperti bencana alam
TBIG juga memiliki Program Kurikulum Unggulan untuk sekolah vokasi. TBIG menargetkan pemberiaan pengayaan materi kepada 1.000 siswa vokasi untuk tambahan kompetensi melalui Learning Management System. Program Csr ini dilakukan tidak lepas dari stakeholders mapping TBIG di mana perusahaan memiliki mitra kerja yang memang membutuhkan tenaga-tenaga terampil dari SMK dengan latar belakang teknik komputer jaringan.
“Tahun lalu kami membuat pelatihan untuk 1000 siswa SMK. Tahun ini menjalankan program yang sama tapi dengan fokus pada pendidikan fiber optic, karena dari puluhan SMK yang sudah kami survei, persoalan mereka salah satunya adalah sarana dan prasarana, sehingga implementasi materi belajar menjadi tidak optimal,” ujarnya.
Tahun 2024 ini, kata Fahmi, TBIG menargetkan bisa menyalurkan 300 siswa SMK yang sudah mengikuti pelatihan tersebut ke mitra-mitra untuk menjadi tenaga terlatih yang melayani kebutuhan pasar fiber optic.
Masih di bidang sosial, TBIG memberikan beasiswa pendidikan dari tingkat SD hingga pascasarjana (S2) untuk karyawan dan anak karyawan. Penerima beasiswa tahun 2023 ada 54 siswa SD, 21 siswa SMP, dan 9 siswa SMA.
ESG di Internal TBIG
TBIG juga mengimplementasikan ESG di internal perusahaan, antara lain di bidang lingkungan adalah program efisiensi penggunaan listrik, efisiensi energi, power monitoring management, penggunaan motion sensor untuk lampu ruangan, implementasi Reverse Vending Machine dan penggunaan bahan bakar rendah emisi.
Sedangkan di bidang sosial antara lain pendidikan dan pelatihan online, pelayanan kesehatan, implementasi kecerdasan buatan pada laporan QHSE, pemantauan kesehatan pekerja berbasis IoT, digitalisasi human capital management dan peningkatan kompetensi teknologi komunitas lokal.
Sedangkan terkait tata kelola atau governance, TBIG secara internal sudah melakukan digitalisasi manajemen risiko, digitalisasi whistleblower system, implementasi sistem pemantauan dan evaluasi peraturan, employee engagement, serta implementasi TBIG Mobile.
Berkat implementasi ESG, kata Fahmi, performa QHSE (Quality, Health, Safety, Environment) sepanjang tahun 2023 nihil angka kecelakaan kerja maupun insiden kerja. Site project of implementation (POI) teraudit ada 1.035 dan Site AOP teraudit 5.596 .
Tahun 2023, TBIG juga berhasil menyelenggarakan pelatihan karyawan yang diikuti 520 partisipan atau 31,5 jam per karyawan.
Sedangkan nilai ESG TBIG yang tercatat di IDX berada pada skor 23,3 dengan kategori medium risk.
