Jakarta, TopBusiness – Salah satu anak usaha PT PLN (Persero), PT Prima Layanan Nasional Enjiniring atau PLN Enjiniring mengaku telah merasakan manfaat dari implementasi Governance, Risk, and Compliance (GRC). Apalagi saat ini sudah terintegrasi dengan penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG).
Berkat implementasi GRC dan ESG ini kinerja PLN Enjiniring terus membaik dengan mengantongi pertumbuhan kinerja. Hal ini seperti disampaikan Chairani Rachmatullah, selaku Direktur Utama PT PLN Enjiniring, yang digelar secara online pada Senin (29/7/2024).
Hadir mendampingi Chairani dalam penjurian kali ini adalah Fritz Edward Siregar, Komisaris Independen; Martono, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko dan Human Capital; Kurnia Rumdhony, Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha; Anita Widiastuti, Sekretaris Perusahaan; Oka Hadisasmita, Kepala Satuan Pengawas Internal; dan Hanung, Kepala Satuan Manajemen Mutu dan Risiko.
“Kami berdiri 22 tahun lalu. Merupakan satu-satuanya entitas di PLN Grup yang bertugas di bisnis enjiniring. Dalam melakukan bisnis kami, PLN Enjiniring mengandalkan GRC. Kami melakukannya dengan prinsip GRC, dimana dalam implementasinya semakin tahun semakin masuk dalam keseharian di bisnis proses kami, ini tidak lepas dari manfaat yang kami rasakan,” ujar dia.
PLNE sendiri terbagi bisnisnya ke dalam lima klaster. Lima kluster itu Engineering Design & FS, Engineering Projects & Business Consultancy berupa Feasibility Study, Engineering Design, Marketing Intelligence. Kedua, Engineering for Innovative Technology, yaitu Green Industry, Power Solution (DRUPS, BESS) CEMS, Inkubasi start-up, Implementasi Smart Grid.
Ketiga, Engineering for Digitalization. Yaitu Transmission Health Index Dashboard, Engineering Database & Analytic Center, Power System Digital Centre. Keempat, Engineering Integrator, berupa EPC Project Completion (Pembangkitan, Transmisi dan Gardu Induk). Dan kelima, Engineering Asset Optimization yaitu CNG Plant, O&M PLTMG, Transmission Asset Management.
Dan berkat implementasi GRC ini, diakui Chairani, sudah berdampak positif ke kinerja Perusahaan. “Dulu, kami lakukan (GRC) hanya sebatas patuh terhadap aturan, tapi kami saat ini lakukan komitmen untuk menerapkan GRC.”
“GRC ini bukan hanya nama saja, akan tetapi implementasi kegiatan yang memberikan value kepada korporasi. Makanya, akhirnya saya berpikir ini prosesnya menarik dan penting buat kami. Untuk memastikan yang kami lakukan itu memang bermanfaat buat kami,” ucapnya.
Tercatat, untuk kinerja operasional sepanjang 2023 lalu, perusahaan berhasil memperoleh realisasi Pendapatan yang naik 61,82% dari Realisasi 2022. Adanya penyelesaian proyek terkendala PLTMG Luwuk 40 MW di Sulawesi Tengah. Net Profit Margin (NPM) Perseroan tahun 2023 mencapai 12,26%atau tumbuh 28,63% dari tahun 2022.
“Selain itu, kami sudah menjalankan Refocusing bisnis enjiniring PLN Group ke PLNE dengan melepas PT REC yang akan menjadi investment company untuk mendukung pencapaian Beyond kWh di bawah PLN ICON. Adanya inovasi Business Development: Asset Management dan EV Ecosystem. Dan tahun lalu itu arus kas terbaik sepanjang PT PLN Enjiniring berdiri,” tandasnya.
Keberhasilan itu tentu sangat dibanggakan PLN Enjiniring, tak terkecuali Sang Dirut sendiri. Bahkan terkait arus kas yang luar biasa itu. “Satu hal yang membanggakan adalah operasional kami tahun lalu dengan GRC ini, kami berhasil memperoleh prestasi arus kas terbaik sepanjang sejarah berdirinya PLN Enjiniring,” tegas dia lagi.
Selaras dengan itu, lanjut Chairani, dalam hal pelayanan pelanggan berhasil mencatatkan banyak keberhasilan. Seperti pencapaian hasil Survey Kepuasan Pelanggan sebesar 99,35% lebih tinggi dari target RKAP sebesar 97,54%, penambahan 15 Pelanggan Barunon- PLN antara lain PT Summit Mas Niaga (Sumitomo Group), PT Bukit Asam Tbk, PT Aruna Cahaya Pratama (Tamaris Group), dll.
Selanjutnya, mendapatkan kontrak bisnis luar negeri dari Philippine Hybrid Energy System Inc, mengembangkan konsep Green Industrial Cluster terdiri dari: Sustainability (listrik dari Pembangkit EBT, Proporsi Lahan Hijau) dan Value Creation (Smart Grid, Zero Down Time, Smart Industry, Smart Living, Circular Economy, Zero Waste) yang terhubung dengan Grid PLN.
“Dan tentu saja menyelesaikan kajian Demand Creation Kawasan DAS Mamberamo dan Pra Kajian Kelayakan Pembangunan PLTA Mamberamo 20 GW,” ujarnya.
Implementasi ESG
Dilanjutkannya, PLNE juga berkontribusi dalam masa depan sektor ketenagalistrikan terutama SDGs 7. Yaitu pertama, terus mengembangkan kapabilitas baik technology know-how maupun ke-enjiniring-an dengan me-leverage semua akses ilmu yang ada, baik melalui tugas belajar, internship, partnership maupun strategic alliance.
Kedua, membangun networking dengan berbagai kalangan untuk menguatkan kompetensi mengenai Sustainability dan Energy Transition. Ketiga, mengembangkan kapasitas di bidang energi terbarukan dengan perkuatan struktur organisasi dan portofolio proyek seperti PLTA Pump Storage, Hydrogen, CCS/CCUS, PLTS+BESS+Fuel cell, PLTB onshore/ offshore, Advanced Control Center dan Smart Grid.
“Karena bagi PLNE, berkelanjutan adalah kunci untuk masa depan yang lebih baik. PT PLN Enjiniring pun mengimplementasikan ESG dengan mengambil tanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan operasional kami dengan memprioritaskan kriteria-kriterianya,” ujar Chairani.
Kriteria tersebut adalah:
- Environtemtal Management
PLNE memahami pentingnya menjaga lingkungan dan berkomitmen untuk mengelola dampak lingkungan dengan cara yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, seperti mengelola limbah, mengurangi sampah plastik, dan sertifikasi sistem manajemen lingkungan.
- Community Relations
PLNE juga turut aktif dalam program keterlibatan dengan masyarakat dan pengembangan masyarakat khususnya dalam kegiatan ketenagalistrikan.
- Resource Use
PLNE menggunakan sumber daya secara efisien dan bertanggung jawab, seperti menjalankan program efisiensi penggunaan air, dan pengelolaan risiko kelangkaan air.
- Climate Change Management
Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, PLNE juga turut terlibat dalam pengendalian perubahan iklim, menginventarisasi dan menghitung emisi GRK Korporat, serta aksi adaptasi atas perusahaan iklim.
- Land Use Biodiversity
PLNE memahami pentingnya pelestarian lahan dan keanekaragaman hayati. PLNE berkomitmen untuk mengelola lahan kami secara bijaksana.
- HC Management
Karyawan adalah aset terbesar. PLNE berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia, dan menyediakan lingkungan kerja yang aman serta inklusif.
- Gender Equality, Disability, and Social Inclution
PLNE berkomitmen untuk selalu menjalankan penguatan pengarusutamaan gender, inklusi bagi difabel, dan keadilan sosial dalam semua aspek operasional.
- Financial/Loan Implmenetation
PLNE mengelola keuangan kami dengan integritas dan transparansi.
- Product Governance
PLNE memastikan bahwa produk dan layanan memenuhi standar kualitas, keamanan, dan keberlanjutan tertinggi, dan transparan, serta memberikan nilai tambah kepada pelanggan dan masyarakat.
GRC di PLN Enjiniring
Lebih lanjut ditegaskan Chairini, penerapan prinsip GRC dalam pengambilan keputusan ini dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa keputusan yang diambil telah mempertimbangkan peluang maupun Risiko yang dihadapi, memberikan keyakinan keputusan yang diambil akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
“Di PT PLN Enjiniring ini dipastikan setiap permintaan tandatangan direksi terkait pengambilan keputusan, sudah melalui proses GRC dalam bentuk Nota Analisa untuk Keputusan Non-Regulasi dan Berita Acara Working Group GRC untuk Keputusan Regulasi yang sudah ditandatangani oleh Pemrakarsa/Reviewer (Risk Unit & Risk Taking Unit) berdasarkan hasil ulasan dari Pengulas GRC (Hukum, Risiko, Kepatuhan),” ujarnya.
Bahkan, kata dia, untuk pemenuhan syarat dari PLN Holding bahwa BOD dan BOC wajib memiliki sertifikasi manajemen risiko paling lambat 1 tahun setelah menjabat, maka BOC, BOD dan seluruh Fungsi 4EP PLNE Telah tersertifikasi GRCP (Governance, Risk, Compliance Professional).
Dan terkait dalam manajemen risiko ini, kata dia, pihaknya sudah memiliki profil risiko korporat yang diterbitkan rutin sejak tahun 2016 dan dapat di-update dalam tahun yang sama ketika terjadi perubahan konteks internal/eksternal.
“Dan sejak tahun 2017 penyusunan dan pemantauan profil risiko korporat menggunakan aplikasi RICO/TAKER. Dan di tahun 2024 terdapat Penetapan Strategi dan Perencanaan Manajemen Risiko yang teragregasi dengan Strategi dan Perencanaan di PLN,” katanya dengan menambahkan untuk nilai Risk Maturity Index PLNE 2019 – 2023 terus meningkat dan di tahun lalu di angka 3,75.
Penerapan GRC di PLNE juga terintegrasi dengan yang ada di PLN Group. Dan saat ini, kata dia, PLN berkomitmen untuk memperkuat penerapan Tata Kelola Terintegrasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan menetapkan Pedoman Tata Kelola Terintegrasi yang mengatur setiap aspek penerapannya.
Selain itu, PLN juga telah merancang framework yang mengatur fungsi-fungsi organ terkait pemenuhan kepatuhan terhadap Tata Kelola Terintegrasi serta pola interaksi antar organ tersebut.
“PT PLN Enjiniring sebagai anak perusahaan PLN turut mendukung penerapan Tata Kelola Terintegrasi ini dengan tergabung dalam Satuan Manajemen Risiko Terintegrasi, Satuan Kepatuhan Terintegrasi dan Satuan Pengawas Intern Terintegrasi dan pelaksanaan FGD-nya setiap triwulan. Selain itu Komisaris Independen PT PLN Enjiniring juga tergabung di dalam Komite Tata Kelola Terintegrasi PLN Group,” tutur dia.
Menurutnya area manajemen risiko, kepatuhan, dan pengawasan intern merupakan focus utama dalam penerapan tata kelola terintegrasi. PLN telah menegaskan keberadaan satuan pengawasan intern terintegrasi (SPIT), satuan kepatuhan terintegrasi (SKPT), dan satuan manajemen risiko terintegrasi (SMRT) di entitas PLN serta fungsi audit intern, fungsi kepatuhan, dan fungsi manajemen risiko di entitas SH/SP/Perusahaan terafiliasi PLN untuk mendukung penerapan tata kelola terintegrasi di PLN Group.
Selanjutnya, dalam penerapan GRC ini pun, Perusahaan sudah memanfaatkan dukungan teknologi informasi dalam bisnis GRC. Karena tantangan proyek yang semakin banyak dan peran PLNE sebagai PLN Guardian Spending membutuhkan peningkatan produktivitas dan perbaikan kualitas produk.
“Solusinya adalah Digitalisasi menuju SSoT (single Source of Truth). Digitalisasi di PLNE ini mengintegrasikan aplikasi virtual cubicle (sebagai aplikasi utama) dengan aplikasi HR, SAP dan DMS didukung kebijakan keamanan infrastruktur TI yang terkonsolidasi dengan PLN Holding,” pungkas Chairini.
