Jakarta, TopBusiness – Mengusung tema ‘Digital Environment of GRC, ESG and SDGs for Sustainable Growth, PT Jasa Raharja sukses menyelesaikan sesi penjurian TOP GRC Awards 2024 yang menjadi rangkaian penting dalam penghargaan bergengsi ini.
Apiknya, pada sesi penjurian kali ini, hadir Direktur Utama PT Jasa Raharja, Rivan A. Purwantono, yang didampingi oleh unsur pimpinan perusahaan lainnya, baik dari BOD (Board of Director) maupun BOC (Board of Commissioners).
Sebelum membahas lebih jauh mengenai tema yang dibawakan, Rivan A. Purwantono menegaskan bahwa visi Jasa Raharja adalah menjadi perusahaan terpercaya dalam memberikan perlindungan dasar terhadap risiko kecelakaan dengan pelayanan yang terbaik. Adapun misi yang dicanangkan adalah menyediakan perlindungan dasar yang terintegrasi secara digital dan didukung Human Capital yang unggul guna menguatkan stake holders engagement.
Bicara mengenai struktur organisasi, Jasa Raharja yang memiliki landasan penugasan Berdasarkan Undang-undang No. 33 Tahun 1964 ini telah memiliki komposisi lima direksi dan lima komisaris. Sehingga, seperti ditegaskan Rivan, dari sisi GCG (Good Corporate Governance) Jasa Raharja sudah memenuhi dengan sangat baik.
Sebagai perusahaan BUMN yang bergerak di bidang asuransi sosial, Jasa Raharja dihadapkan oleh sejumlah tantangan yang berpotensi meningkatkan angka kecelakaan.
“Tidak bisa dihindari bahwa setiap tahunnya jumlah kendaraan itu naik 4%, sementara kalau jalan tol dibuat satu penambahan, pasti jalan negara atau jalan nasional dan jalan daerahnya juga tumbuh. Jadi, tumbuhnya hampir 6,11%. Hal yang sama juga jumlah penduduk naik 1,08%. Dan ini adalah potensi untuk meningkatnya kecelakaan, tidak bisa dihindari. Setiap tahun kecelakaan naik, tapi kalau Bapak/Ibu (dewan juri) lihat, apa yang terjadi, korban meninggal dunia justru turun. Ini adalah angka yang penting,” ungkap Rivan di awal-awal presentasinya.
Tidak berhenti sampai di situ, Jasa Raharja juga dihadapkan beberapa fakta lain, seperti pajak kendaraan yang menjadi sumber pendapatan perusahaan dan tingkat kepatuhan masyarakat yang masih rendah.
Dihadapkan oleh berbagai permasalahan, pada tahun 2022-2023 dan seterusnya, Jasa Raharja pun membuat inisiatif Transformation Ideas ‘Smart Digital Society’. Dari inisiatif inilah, Jasa Raharja melakukan registrasi kendaraan yang awalnya masih ‘silo-silo’, 38 provinsi berbeda-beda. Ketika itu, berdasarkan database yang diolah perusahaan, ternyata tingkat kepatuhannya rendah sekali, walaupun dari tahun 2023 sudah beranjak naik.
”Di tahun 2023 kepatuhan masyarakat naik dari 39% ke 40%, hari ini sudah mencapai 51%, ini sudah naik. Kenapa? Karena ada gakum (penegakan hukum), ada sistem, dan ada banyak hal. Bahkan, pengaruh (meningkatnya kepatuhan) ke PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) pun ekstrem dari Rp47 triliun, naik menjadi Rp53 triliun dari PKB tahun 2022. Memang di tahun 2023 kemarin baru Rp52 triliun, tetapi kalau ditarik garis lurus dibanding tahun 2021 ini sudah termasuk yang terbesar,” ujarnya.
Penerapan GRC
Lebih lanjut, bicara soal penerapan GRC, Rivan mengungkap soal hubungan keberlanjutan dan bisnis perusahaan ini menjadi latar belakang di mana perusahaan melakukan integrasi. Bagaimana GRC bisa jalan seiring dengan ESG dan SDGs, dan itu disebut ada tahapannya.
”Transformasi yang kami lakukan dengan menggunakan, baik dari SDM, dari sistem organisasi, peningkatan kualitas sistem yang kita miliki, kemudian outperform-nya juga kita lihat brand awareness-nya. Jadi, pelayanan yang kita harapkan dipercepat, adakah keluhan masyarakat tentang pelayanan Jasa Raharja yang tidak direspon, termasuk bagaimana perlindungan dasar atau kepatuhan masyarakat meningkat atau tidak. Karena paling tidak ini adalah ukurannya yang terlihat dari database yang kami miliki,” ungkapnya.
Namun, Rivan menilai bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan kalau kelengkapan sistem dan infrastruktur dalam seluruh business plan yang dimiliki tidak dilakukan dengan baik.
“(Untuk itulah), struktur organisasi perusahaan, (khususnya) posisi unit terkait GRC yang terintegrasi ini tidak hanya bicara tentang Board of Director saja, tetapi bagaimana resilience effective dan responsive efficient dari function unit ini benar berjalan dengan utuh, dan kemudian masuk di dalam seluruh komponen unit yang ada, baik dari Risk Management, dari Compliance, dari Internal Audit yang kemudian memastikan bahwa fungsi-fungsi komite ini yang di bawah komite BOC maupun BOD juga berfungsi dengan baik,” tandas Rivan.
Tidak hanya itu, Jasa Raharja juga melengkapinya dengan kelengkapan sistem dan infrastruktur GRC, di mana ada 11 kebijakan. “Semua perfect dan lengkap dan sesuai dengan peraturan yang ada, dimulai dengan Pedoman GCG, Board Manual untuk semua kepentingannya, sampai dengan sistem pengendalian internal dan Penundaan Transaksi Bisnis,” ungkap Rivan.
“Satu hal, bahkan pembayaran ke rumah sakit, kami membuat target cabang itu masuk di dalam satu kewajiban mereka untuk menjaga over booking 100% dengan maksimal bayar 14 hari. Tujuannya apa, tujuan adalah penundaan ini berpengaruh kepada pelayanan kepada masyarakat, sehingga ini akan berdampak ke percepatan bisnisnya,” lanjutnya.
Selanjutnya untuk bisa bekerja sama dengan pihak lain dengan cara yang lebih baik, tak bisa dipungkiri bahwasanya dukungan teknologi informasi pun diperlukan baik dalam bisnis maupun dalam penerapan GRC. Hal ini pun telah dilakukan oleh Jasa Raharja terhadap mitranya.
“Dukungan Teknologi Informasi dalam bisnis dan GRC ini ternyata bisa mengubah ekosistem, tidak bisa dilakukan hanya dengan cara itu saja, data dari Dukcapil, juga seandainya top up dibutuhkan ke BPJS kita juga bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Kemudian dengan Polri, (ini menjadi) salah satu sistem yang untuk menjaga Anti Fraud kami. (Juga) host to host dengan semua rumah sakit dan termasuk dengan perbankan. Bahkan, ini termasuk salah satu yang kita gunakan sekarang adalah data-data indikasi lokasi kecelakaan, juga sudah teridentifikasi oleh Google dan sudah mulai digunakan,” ujar Rivan.
Berbagai inisiatif di atas, membuktikan bahwa teknologi informasi yang mendukung GRC ini ternyata sangat memungkinkan bahwa Jasa Raharja dalam membangun dengan fokus pada bidang pendapatan, karena menurut Rivan bidang pendapatan adalah 50% berdampak kepada totalitas dari operasional kami dan pelayanan. Dua hal yang menjadi perhatian Jasa Raharja, sementara bidang lainnya adalah supporting.
Tidak berhenti sampai di situ saja, Rivan juga menegaskan bahwa perusahaan mengembangkan juga standarisasi terhadap pembayaran santunan dengan mengubah standarisasi yang tidak ada di rumah sakit, seperti dalam membuat kriteria cedera yang dulu mungkin berbentuk e-catalog sekarang bergeser dalam bentuk adalah diagnosa cedera.
“Jadi ada 608 diagnosa cedera, ada 780 jenis obat, dan 1050 alkes. Ini membuktikan bahwa transformasi bisnis Jasa Raharja dengan governance yang kita lakukan tidak hanya di internal saja, tapi kami mengajak dan mengikutsertakan mitra kerja. Jadi, ekosistemnya ikut berubah,” tandas Rivan.
Lebih lanjut Rivan mengatakan, salah satu implementasi GRC dengan Teknologi Informasi Digital ini adalah semua tidak ada case base, semua tersistem.
“Dengan demikian, kita membangun juga terhadap mitra kerjanya. Mau seluruh perusahaan sebagai mitra Jasa Raharja, juga ikut membangun inovasi digital. Nah ini, tahun 2023 dan 2024 ini sekarang semua ikut. Inilah yang menjadikan kebanggaan bagi kita bahwa ternyata tidak hanya secara internal, Compliance, Procedure and Policy ini ternyata (juga diikuti) infrastruktur dan mitra pun ikut,” kata Rivan.
Misalnya, dari Kereta Api (KAI), yang tadinya laporan manifest itu satu bulan setelahnya, sekarang sudah menjadi online begitu juga untuk ASDP, Pelni, dan mitra lainnya.
“Dan kemudian akhirnya integrasi sistem inilah yang menjadi kebanggaan buat kami. Kami punya sistem yang namanya JR Center, punya dashboard dan inilah bagian dari cara kami untuk Governance kita pastikan, Manajemen Risiko, kemudian kepatuhan (yang) mereka melakukannya dengan sangat baik,” tutupnya.
