Jakarta, TopBusiness – Sesuai namanya, Jamkrindo Syariah merupakan perusahaan penjaminan berbasis syariah. Didirikan pada 19 September 2014, Jamkrindo Syariah yang kini berusia 10 tahun memiliki visi ‘Menjadi Perusahaan Penjaminan Syariah Terpercaya dan Terdepan dalam Pertumbuhan Bisnis di Indonesia’.
Adapun misi yang dicanangkan ada tiga, yaitu melakukan kegiatan penjaminan syariah bagi pengembangan entitas bisnis berbasis syariah di Indonesia; memberikan layanan yang luas dan berkualitas tinggi; serta memberikan manfaat kepada stakeholder sesuai prinsip bisnis yang sehat dan berlandaskan syariah.
Seperti dikatakan Endang Sri Winarni, Direktur Keuangan, SDM & Umum di Jamkrindo Syariah, perusahaan penjaminan ini mempunyai 11 produk, ada produk yang sifatnya adalah penjaminan Non Cash Loan, terdiri dari Surety Bond, Kontra Bank Garansi, Custome Bond, dan Kafalah Distribusi Barang.
“Kemudian untuk Produk Cash Loan, kami ada penugasan dari pemerintah, yaitu adalah Penjaminan KUR IB, kemudian Penjaminan FLPP yang berbasis syariah. Dan kemudian untuk Produk Cash Loan lainnya yang sifatnya komersial ada lima produk, yaitu Kafalah Supply Chain Financing, Kafalah Pembiayaan Konstruksi Pengadaan Barang dan Jasa, Penjaminan Pembiayaan Mikro, Penjaminan Pembiayaan Umum, Kafalah Pembiayaan Multiguna,” papar Endang pada sesi penjurian TOP Human Capital (HC) Awards 2024 yang digelar secara virtual pada Kamis (10/10/2024) lalu.
Mengulas sedikit soal sepak terjang perusahaan dalam dua tahun terakhir, Endang mengatakan bahwa di tahun 2022 perusahaan menjamin (pihak) terjamin sebanyak 784.523 pengusaha dengan nilai panjaminan sebesar Rp44,5 triliun. Sementara, pada September tahun ini jumlah terjaminnya sudah mencapai 77.117 orang/pengusaha dengan nilai penjaminan sebesar Rp19,3 triliun.
Jamkrindo Syariah memiliki grand strategy yang disusun secara lima tahunan, di mana yang sedang berjalan yakni untuk periode 2020 hingga 2024, yang terdiri dari tahap pertama Penguatan Daya Saing itu di tahun 2020-2021, dan Pengembangan Daya Saing di tahun 2022-2023, dan di 2024 adalah Pertumbuhan Berkesinambungan.
“Namun demikian, karena kemarin ada Pandemi Covid-19, maka ada sedikit revisi di tahapannya, di mana untuk Perkuatan Kapasitas Human Capital itu kita geser, karena di tahun 2020 dan 2021 kita sedang sedikit disibukkan dengan adanya pandemi Covid-19,” jelasnya.
Seiring dengan itu, perusahaan juga sedang menyusun rencana jangka panjang untuk periode 2025-2029.
“Kemudian kami juga melakukan Transformasi di bidang digital. Kita tidak hanya melakukan transformasi dalam sistem digital, tetapi juga mindset dari para karyawan kami terkait dengan digitalisasi,” tandas Endang.
Kinerja Perusahaan
Bicara mengenai kinerja perusahaan, secara sekilas disebutkan bahwa dari sisi aset, Jamkrindo Syariah terus mengalami peningkatan dari sejak perusahaan berdiri pada tahun 2014 silam. Lalu, pada kesempatan ini Endang juga mengatakan bahwa terkait pengelolaan SDM perusahaan senantiasa menyelarasakannya dengan strategi bisnis, dan diukur dengan pencapaian kinerja perusahaan.
“Jadi, tahun 2024 ini, di posisi September total aset kami adalah sebesar Rp2,5 triliun. Di mana pada saat pendirian, atau 10 tahun yang lalu, equitas kita itu baru Rp250 miliar. Jadi, kami sudah meningkat menjadi sepuluh kali lipat, sedangkan equitas di Rp1,2 triliun,” ujar Endang.
Sementara untuk pertumbuhan labanya dari tahun 2019 hingga 2024 rata-rata per tahunnya sebesar 109,66%. Di sini, Endang tak menampik bahwa pertumbuhan laba perusahaan didukung oleh pertumbuhan SDM juga, di mana SDM di Jamkrindo Syariah jumlahnya tumbuh sebesar 18,24% per tahun.
“Untuk posisi (SDM) di tahun ini adalah sebanyak 186 karyawan. Jadi, 186 karyawan ini yang mampu meng-generate, tadi aset yang tadinya Rp250 miliar menjadi Rp2,5 triliun dan produktivitas karyawannya tumbuh rata-rata 80,73%,” jelasnya.
Pengelolaan Human Capital
Sejalan dengan ajang penghargaan TOP HC Awards 2024, di mana human capital menjadi topik bahasan utama, pada kesempatan ini Jamkrindo Syariah juga mengungkapkan soal Human Capital Management yang dijalankan perusahaan. Misalnya, dari sisi struktur organisasi, Endang menyebut bahwa perusahaan telah melakukan review atas struktur organisasi, dengan menambah jumlah divisi.
“Karena sadar bahwa untuk melakukan ekspansi bisnis dengan sehat, maka proses manajemen risiko ini harus kami sempurnakan, sehingga bagian manajemen risiko yang tadinya berupa bagian, kita tingkatkan menjadi divisi. Dan satu lagi kami sadar bahwa potensi market sebetulnya sangat besar, sehingga kami memperkuat tim marketing kami. Juga divisi pemasaran kita tambah jadi satu. Dengan begitu total divisi pemasaran ada dua,” jelasnya.
Kemudian untuk membuat bisnis ini bisa dijalankan dengan baik, perusahaan juga membentuk Divisi Penunjang Bisnis yang tugasnya adalah melakukan preparation (persiapan) untuk hal-hal terkait bisnis, seperti membuat SOP, melakukan penilaian atas kantor cabang dan sebagainya.
“Kemudian untuk memperkuat Risk Management kita membentuk Divisi Analisa Risiko. Dengan adanya Divisi Analisa Risiko ini maka pengambilan keputusan dapat berjalan dengan lebih baik. Dan risiko secara korporat itu di-handle oleh Divisi Manajemen Risiko tadi,” tutur Endang.
Lebih lanjut Endang mengatakan bahwa terkait dengan SDM, selain potensinya, SDM juga perlu didasarkan pada value-value yang harus dimiliki oleh insan Jamkrindo Syariah. Adapun sebagai perusahaan BUMN, Jamkrindo Syariah memiliki core value yaitu AKHLAK sesuai dengan Peraturan Kementerian BUMN. Sedangkan untuk Corporate Value-nya disingkat menjadi PEOPLE (Performance Driver, Empowering, Optimisme, Profesional, Look Around, dan Engagement).
“Pertama, Performance Driven. Artinya kita mempersembahkan performa terbaik, itu di semua insan harus mengedepankan performa terbaik. Kemudian yang berikutnya adalah Empowering, yaitu adalah pemberdayaan unit kerja dan individu yang berkinerja marginal. Kemudian kami juga menekankan adanya Optimisme di setiap insan di Jamkrindo Syariah. Optimisme itu maksudnya adalah setiap insan Jamkrindo Syariah itu harus tahu masalah dan kemudian harus mengetahui solusi dan mampu menjalankan solusinya,” jelas Endang.
“Kemudian yang berikutnya adalah Profesional, yaitu berpikir dan bertindak secara profesional untuk mendapatkan performa dan value perusahaan yang baik. Kemudian kita harus senantiasa Look Around, yaitu selalu update atas perkembangan Lingkungan yang bersumber dari regulator & tuntutan pasar yang kompleks. Dan yang terakhir adalah Engagement, yaitu dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari kami mengedepankan nilai kolaborasi dan bersinergi dalam rangka menciptakan mutual trust di antara insan Jamkrindo Syariah,” sambungnya.
Dari culture tersebut, perusahaan kemudian merumuskan beberapa Culture Activation Program dari masing-masing Culture.
“Yang pertama terkait dengan Culture Performance Driven, di sini kami RKAP di mana di dalamnya terdapat target-target itu kami cascading kepada masing-masing individu baik individu yang berada di unit bisnis maupun yang di supporting. Kemudian kami melakukan penetapan KPI di mana parameter-parameter KPI itu kami bobot berdasarkan Handycap yang ada saat ini. Kemudian KPI tersebut kami jadikan sebagai dasar untuk memberikan predikat kepada masing-masing karyawan atau nilai yang itu nantinya akan kita kaitkan dengan reward yang akan diterima oleh karyawan,” tutur Endang.
Kemudian untuk Culture yang berikutnya, yakni Empowering, Culture Activation-nya antara lain perusahaan mengembangkan unit kerja dan individu, sehingga semua unit kerja diharapkan dapat berkontribusi positif bagi perusahaan dengan cara meningkatkan kemampuan individu dalam bekerja.
“Kemudian terkait dengan Culture Optimisme, tadi saya sampaikan bahwa kita mengajarkan setiap individu itu mampu mengetahui masalah tadi dan memberikan solusi dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan tentunya dan juga melakukan coaching kepada tim kami. Untuk Culture Profesional, itu kita Culture Activation-nya adalah kita mengupayakan insan Jamkrindo Syariah mampu meng-create performance berdasarkan planning yang smart, terukur, kemudian spesifik. Kami juga berupaya untuk meningkatkan nama baik perusahaan dengan cara memberikan pelayanan yang prima. Kemudian kita memastikan bahwa setiap proses bisnis itu sesuai dengan regulasi eksternal dan internal,” kata Endang.
Kemudian untuk Look Around, dalam hal ini perusahaan kita memberikan pemaparan tentang profil bisnis ke seluruh insan Jamsyah secara berkala di-update dan di-refresh, dan juga kalau ada perkembangan-perkembangan dan tuntutan pasar maka akan dilakukan sharing session.
Terakhir untuk Engagement, Culture Activation Programnya berupa kolaborasi, saling mengajak dan menyamakan persepsi dalam menghadapi permasalahan, kemudian Menciptakan mutual trusted & sinergi antara atasan dan bawahan, serta menjalankan konsep Stop, Start, Continue & Strengthen (S2CS).
“Di samping culture, tentunya lingkungan dari teman-teman dalam bekerja itu juga kita upayakan sedemikian rupa sehingga teman-teman bisa mendapatkan suasana yang Work Life Balanced. Jadi, kita memperhatikan keseimbangan antara pekerjaan dan juga waktu me time-nya dari para karyawan dengan memberikan beberapa fasilitas, seperti adanya kegiatan olahraga, lingkungan kerja yang milenialis, dan beberapa hal yang lainnya,” kata Endang.
Terkait dengan lingkungan kerja, perusahaan juga mengupayakan adanya Leadership Style yang disesuaikan dengan karakteristik dari karyawan yang sebagian besarnya adalah Gen Z.
“Kami juga selalu melakukan survey kepuasan dan keterikatan karyawan sehingga kami bisa mengetahui apa sih kekurangan dari kebijakan yang dibuat oleh manajemen, sehingga benar-benar lingkungan kerja menjadi tempat yang nyaman dan teman-teman bisa nantinya bisa menjadi the best talent,” pungkas Endang.
Editor: Busthomi
