Jakarta, TopBusiness — Di tengah tantangan dunia usaha yang makin kompleks dan penuh disrupsi, Great Giant Foods (GGF) muncul sebagai salah satu perusahaan agribisnis yang berhasil membuktikan bahwa investasi pada sumber daya manusia (SDM) bukan hanya soal menjaga kestabilan operasional, tapi kunci keberhasilan dan pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Melalui pendekatan Human Capital (HC) strategis, GGF berhasil membangun sistem manajemen talenta yang bukan hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata terhadap performa bisnis—mulai dari efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, hingga mempercepat transformasi organisasi.
Keberjasilan terebut merupakan kisah sukses GGF yang sudah membuktikan bahwa transformasi SDM bukan sekadar proyek HR, melainkan strategi inti bisnis. Ketika perusahaan berani berinvestasi pada manusia, maka hasilnya bukan hanya loyalitas dan kebahagiaan karyawan, tapi juga pertumbuhan yang nyata dan berkelanjutan.
Great Giant Foods telah menunjukkan bahwa pengembangan SDM bukan beban biaya, melainkan aset bisnis paling berharga. “Jadi, kami tidak hanya menanam nanas. Kami menanam masa depan,” tutur Adhi H Habibi – Asc Dir People Partner Production & People Development saat mengikuti wawancara penjurian TOP HC Awards 2025, yang digelar secara daring, Jumat (26/9/2025).
Hadir dalam penjurian kali ini, selain Adhi ada Yoseph Weizak – GM People Services, Kimberly – GM People Rewards, Anastasia Teoriman – Manager Organization Dev & People Acquisition, dan M. Arief Erdi P. – Manager People Development.
HC sebagai Penggerak Bisnis
Seperti Perusahaan-perusahaan besar lainnya yang sudah memandang HC tak hanya sebatas fungsi administratif, GGF justru menempatkannya sebagai mitra bisnis strategis.
Dalam visinya, HC di GGF bukan hanya mengurus rekrutmen dan pelatihan, tetapi menyusun strategi organisasi, mengembangkan kepemimpinan masa depan, hingga membangun budaya kerja yang selaras dengan arah bisnis.
“Kami percaya bahwa keberhasilan bisnis tidak bisa dilepaskan dari kualitas orang-orang di dalamnya. Karena itu, setiap inisiatif SDM kami selalu dimulai dari kebutuhan bisnis,” ujar Adhi H Habibi lagi.
Lebih jauh dijelaskannya, GGF telah menetapkan 20% posisi di organisasinya sebagai Mission Critical Role (MCR)—posisi strategis yang memiliki pengaruh langsung terhadap performa dan keberlanjutan bisnis.
Dalam dua tahun terakhir, angka pengisian posisi ini oleh talenta-talenta internal melonjak dari 8% menjadi 47%. Luar biasa.
Strategi ini didukung oleh program akselerasi seperti Immersive Leadership Development, yang dikembangkan bersama Singapore Management University (SMU). Dari 30 peserta batch pertama, 40% berhasil dipromosikan ke posisi senior management hanya dalam waktu enam bulan.
“Kami tidak hanya membentuk pemimpin masa depan, tapi memastikan mereka siap tempur menghadapi tantangan nyata di lapangan,” timpal Arief Erdi.
Adapun beberapa keberhasilan transformasi HC di GGF dapat dilihat dari indikator bisnis yang terus meningkat: adanya pengisian posisi strategis naik signifikan lewat internal mobility; lalu ada talent pipeline makin siap dengan program-program pengembangan berjenjang; juga adanya budaya kerja yang sehat, produktif, dan kolaboratif; juga terjadi penghematan biaya tunjangan dengan sistem digital yang agile; serta peningkatan engagement & retensi karyawan.
Jadi, kaat Adhi, yang membuat pendekatan HC di GGF unik adalah bagaimana setiap program dirancang langsung menjawab kebutuhan bisnis, mulai dari operasional kebun nanas hingga ekspansi ke produk konsumer (FMCG). “Kalau talent-nya tepat, bisnis akan lebih cepat,” tegasnya.
Digitalisasi dan Rekrutmen Berbasis AI
GGF tidak mengandalkan satu jalur pengembangan karier saja. Mereka memperkenalkan dual career path, yang memungkinkan karyawan berkembang baik dalam jalur struktural (manajerial) maupun fungsional (keahlian teknis).
Hal ini diimbangi dengan arsitektur pembelajaran menyeluruh, dari pelatihan teknis, kepemimpinan, hingga program sertifikasi nasional (BNSP).
GGF juga membangun learning ecosystem digital berbasis LMS, blended learning, LinkedIn Learning, hingga gamifikasi internal. Semua proses pembelajaran terintegrasi dengan sistem HC yang dikenal sebagai Genesys, mencakup seluruh siklus hidup karyawan, dari rekrutmen hingga offboarding.
Jadi, sebagai perusahaan progresif yang selalu mengutamakan kemajuan dan inovasi, GGF percaya bahwa teknologi akan menjadi pendorong bagi desain proses baru yang lebih sederhana, ramping, dan adaptif. Hal ini akan mendorong agilitas bisnis dan memberikan pengalaman karyawan yang sama sekali baru sepanjang siklus hidup karyawan.
“Pengalaman dan budaya diperkirakan akan menjadi keuntungan kompetitif baru, dan kami melihat teknologi sebagai sarana untuk membangun budaya tempat kerja yang hebat. Pada tahun 2017, kami mulai mendigitalisasi Sistem & Proses HR kami dengan membuat Genesys (GGF Employee Service System– sebuah portal terpadu tunggal untuk semua urusan HR,” terang dia.
Selanjutnya, proses rekrutmen di GGF kini diperkuat teknologi kecerdasan buatan yaitu AI-based hiring yang mampu menyaring kandidat berdasarkan kompetensi dan validasi secara otomatis, termasuk sistem scorecard dan pengawasan antikecurangan saat wawancara.
Sementara itu, karyawan baru diperkenalkan pada chatbot ISAR yang dapat diakses melalui WhatsApp, menjawab berbagai pertanyaan HR secara real-time, mulai dari cuti, tunjangan, hingga pelatihan. Ini meningkatkan efisiensi layanan SDM secara signifikan.
Genesys dan ISAR
Efisiensi Bisnis
Salah satu terobosan menarik GGF adalah implementasi Flexible Benefit System berbasis poin. Melalui program gamifikasi seperti My Project, My Grant, dan My Creation, karyawan mendapatkan poin sebagai insentif yang dapat ditukar dengan berbagai jenis tunjangan sesuai kebutuhan pribadi.
Fleksibilitas ini tidak hanya meningkatkan kepuasan karyawan, tetapi juga menghasilkan penghematan perusahaan sebesar Rp 1,2 miliar per tahun dibandingkan sistem tunjangan konvensional.
Selain itu, dengan ekspansi ke sektor FMCG dan consumer products, GGF meluncurkan budaya baru bernama “Cepat dan Bisa” sebagai fondasi mentalitas kerja. Budaya ini mengedepankan kecepatan eksekusi, adaptabilitas, dan kolaborasi lintas fungsi.
Tiga fase implementasi budaya—Tahu, Mampu, Mau—dijalankan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Hasilnya, awareness terhadap budaya meningkat 23% hanya dalam beberapa bulan sejak peluncuran.
Selain itu, dalam menjaga kesehatan fisik dan mental karyawan menjadi bagian dari strategi GGF membangun tempat kerja yang berkelanjutan. Lewat program Weight Loss Challenge, lebih dari 70% peserta mengalami penurunan berat badan rata-rata 3 kg dalam waktu 6 minggu.
Aktivitas lainnya mencakup kelas yoga, mental health coaching, hingga sports club di area kerja. “Karyawan sehat, bisnis pun kuat. Karena kami memproduksi makanan sehat, maka internal kami juga harus sehat,” kembali Adhi menegaskan.
