Jakarta, TopBusiness – Di tengah tuntutan global terhadap praktik bisnis berkelanjutan, perusahaan tidak lagi bisa memandang tanggung jawab sosial (CSR) sebagai sekadar kewajiban. Bagi PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), CSR justru menjadi bagian integral dari strategi bisnis untuk menciptakan nilai jangka panjang.
Berbasis di Aceh Utara, perusahaan produsen pupuk dan petrokimia ini menunjukkan bagaimana integrasi antara operasional bisnis dan program sosial mampu menghasilkan dampak ekonomi sekaligus sosial yang signifikan.
“CSR kami tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan strategi bisnis perusahaan dan prinsip keberlanjutan,” ujar Heri Afriadi Aka, Vice President TJSL PIM saat mengikuti penjurian TOP CSR Awards 2026 secara daring, Senin (16/3/2026).
Hal ini selaras dengan salah satu misi Perseroan yakni, ‘Memastikan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan ramah lingkungan.’ PIM sendiri memiliki wilayah pemasaran yang mencakup Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.
Dalam penjurian kali ini, Heri didampingi oleh beberapa staf TJSL, yakni Rezki Zufina, Fitriani, Fahry Purnama, dan Isnaini.
Transformasi CSR
Kembali Heri menegaskan, transformasi CSR di PIM terlihat dari pendekatan yang semakin sistematis dan berbasis ESG (Environmental, Social, Governance). Sejak 2024, perusahaan bahkan telah memasukkan indikator ESG sebagai bagian dari Key Performance Indicator (KPI) manajemen.
Langkah ini menandai pergeseran penting: CSR tidak lagi sekadar aktivitas filantropi, melainkan menjadi instrumen strategis dalam pengambilan keputusan bisnis.
“Keberlanjutan menjadi dasar dalam perencanaan jangka panjang perusahaan,” kata Heri singkat.
Komitmen tersebut diperkuat dengan bergabungnya PIM dalam United Nations Global Compact (UNGC) pada 2025 lalu. Keanggotaan ini membuka akses terhadap praktik terbaik global sekaligus memperluas peluang kolaborasi internasional.
“Dengan keanggotaan ini, bertujuan memperkuat penerapan praktik bisnis berkelanjutan yang mencakup aspek lingkungan, hak asasi manusia, ketenagakerjaan, serta tata kelola yang etis dan transparan,” katanya.
Menciptakan CSV dari Hulu ke Hilir
Salah satu kekuatan utama PIM terletak pada kemampuannya mengaitkan CSR dengan core business, khususnya di sektor pertanian.
Melalui pendekatan creating shared value (CSV), perusahaan tidak hanya menjual produk pupuk, tetapi juga membangun ekosistem pertanian yang berkelanjutan.
Program ini mencakup: analisis tanah dan rekomendasi pemupukan, penyediaan sarana produksi pertanian, pendampingan agronomis, dan pemanfaatan teknologi pertanian.
Di sisi hilir, PIM membantu petani mengakses pembiayaan, offtaker, hingga asuransi pertanian.
Pendekatan menyeluruh ini menjadikan CSR bukan sekadar program sosial, tetapi bagian dari rantai nilai bisnis.
Beberapa program CSR unggulannya yang menggunakan pendekatan CSV adalah, antara lain:
Pertama, Pesona Paya Nie (Empowerment). Program ini merupakan program berbasis konservasi Rawa Paya Nie yang terletak di Kecamatan Kuta Blang, Kab Bireuen, Aceh. Program ini dibentuk sebagai respon Perusahaan dalam upaya melestarikan ekosistem Paya Nie dari aktivitas kerusakan lingkungan, seperti degradasi lahan, penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, serta terdapat potensi pemanfaatan tanaman purun menjadi kerajinan anyaman.
Kedua, Program Tani Sejahtera (PTS) merupakan program pemberdayaan masyarakat yang mendukung bisnis inti perusahaan sekaligus menciptakan CSV bagi perusahaan dan masyarakat. Program ini berfokus pada pemberdayaan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) melalui pemanfaatan lahan sempit dan pekarangan untuk budidaya tanaman hortikultura dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Program ini bertujuan meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga serta mendorong partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat. Dalam pelaksanaannya, program ini menggunakan produk pupuk perusahaan yaitu Urea dan NPK, sehingga turut mendukung penyerapan produk pupuk sebagai bagian dari core business perusahaan.
Hingga saat ini, PTS telah memberikan manfaat kepada lebih dari 250 petani dan telah direplikasi di 15 desa di wilayah operasional perusahaan. Program ini menunjukkan sinergi antara kepentingan bisnis perusahaan dengan upaya pemberdayaan masyarakat serta penguatan sektor pertanian yang berkelanjutan.
Dampak Nyata
Strategi CSR PIM tersebut mulai menunjukkan hasil. Dari sisi ekonomi, PIM berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja yang signifikan. Pada 2024, PIM mencatat nilai ekonomi yang dihasilkan mencapai Rp5,75 triliun, meningkat dari Rp3,79 triliun di tahun sebelumnya. Dengan distribusi sebesar Rp4,31 triliun kepada berbagai pemangku kepentingan.
“Peningkatan ini mencerminkan efisiensi operasional serta strategi produksi yang adaptif terhadap kebutuhan pasar. Aktivasi kembali pabrik hidrogen peroksida yang dekade menjadi salah satu capaian strategis yang memperkuat diversifikasi produk dan memperluas kontribusi ekonomi PIM secara regional maupun nasional,” jelasnya.
Sementara pada aspek lingkungan, PIM terus berkomitmen untuk menekan jejak ekologis operasionalnya melalui efisiensi energi dan pengurangan emisi. Total emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan pada tahun 2024 tercatat sebesar 652.436,79 ton CO₂-eq, yang mencakup emisi dari cakupan 1, cakupan 2, serta emisi dari proses produksi.
Selain itu, terjadi penurunan konsumsi energi dan limbah cair dibandingkan tahun sebelumnya. “Upaya pelestarian lingkungan juga terlihat dari peningkatan alokasi dana konservasi keanekaragaman hayati sebesar Rp400 juta. PIM senantiasa menerapkan pendekatan berbasis kehati hatian dalam pengelolaan limbah B3, konsumsi air, serta gas industri guna menjaga keseimbangan ekosistem sekitar.”
Dan pada aspek sosial, PIM menunjukkan komitmen kuat terhadap kesejahteraan masyarakat dan pembangunan sosial melalui penyaluran dana TJSL sebesar Rp7,05 miliar. Dana tersebut difokuskan pada sektor pendidikan, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil (UMK).
“Program unggulan seperti Pesona Paya Nie menjadi bentuk nyata kontribusi Perusahaan dalam pemberdayaan masyarakat berbasis konservasi lahan pasca-konflik. Selain itu, jumlah jam kerja selamat meningkat menjadi lebih dari 44 juta jam, menunjukkan pencapaian dalam penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang efektif,” ungkap dia.
Menjawab Tantangan
Sebagai perusahaan petrokimia, tantangan lingkungan menjadi isu yang tidak bisa dihindari. Salah satunya adalah potensi emisi amonia yang dapat berdampak pada masyarakat sekitar.
PIM merespons hal ini melalui berbagai langkah mitigasi, termasuk sistem pemantauan emisi, simulasi tanggap darurat bersama masyarakat, serta pemasangan sistem deteksi dini. “Pengelolaan risiko lingkungan menjadi perhatian utama kami,” ujar Heri.
Di sisi lain, perusahaan juga terus mendorong efisiensi energi dan dekarbonisasi proses produksi sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Selanutnya, dalam aspek tata kelola, PIM menerapkan kebijakan anti-korupsi, transparansi, serta sistem manajemen anti-penyuapan. Perusahaan juga bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk memperkuat integritas organisasi.
Tidak hanya internal, prinsip ESG juga diterapkan dalam rantai pasok. Pemasok diwajibkan memenuhi standar keberlanjutan, mulai dari kepatuhan ketenagakerjaan hingga perlindungan lingkungan.
Langkah ini penting untuk memastikan bahwa nilai keberlanjutan berjalan di seluruh ekosistem bisnis.
Arah Jangka Panjang
Ke depan, PIM memfokuskan strategi keberlanjutan pada tiga pilar utama: Pertama, Efisiensi operasional dan dekarbonisasi. Kedua, Penguatan dampak sosial melalui pemberdayaan Masyarakat. Dan ketiga, Tata kelola perusahaan yang berintegritas.
Melalui pendekatan ini, perusahaan tidak hanya menargetkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga posisi sebagai pemain global di industri petrokimia dan agrosolusi yang berkelanjutan.
Bagi pelaku bisnis, langkah PIM memberikan pelajaran penting: CSR yang terintegrasi dengan strategi perusahaan dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif.
Dengan pendekatan berbasis ESG, perusahaan tidak hanya meningkatkan reputasi, tetapi juga memperkuat ketahanan bisnis di tengah dinamika global.
“Tujuan akhirnya adalah menciptakan nilai bersama bagi perusahaan dan masyarakat,” kata Heri. Di tengah perubahan lanskap bisnis, PIM menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan lagi pilihan—melainkan fondasi utama untuk bertumbuh.
