Jakarta, TopBusiness – PT Rekayasa Industri (Rekind) terus memperkuat implementasi tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) melalui berbagai program yang terintegrasi dengan strategi keberlanjutan perusahaan.
Dua program CSR unggulan yang menjadi fokus perusahaan saat ini adalah pemberdayaan penyandang disabilitas melalui program Kopi Mosaik Rekind serta pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi masyarakat sekitar proyek, khususnya di proyek RDMP Balikpapan.
Sekretaris Perusahaan PT Rekayasa Industri, Budi Adi Nugroho, menjelaskan bahwa kedua program tersebut dirancang untuk menjawab tantangan sosial yang muncul di sekitar operasional perusahaan sekaligus memperkuat keberlanjutan bisnis.
“Sebagai perusahaan EPC (Engineering, Procurement, and Construction) yang banyak beroperasi di berbagai daerah, kami melihat pentingnya keterlibatan masyarakat dalam setiap proyek. Program CSR kami tidak hanya bersifat filantropi, tetapi juga dirancang untuk menciptakan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung keberlangsungan operasional perusahaan,” ujar Budi dalam presentasi penjurian TOP CSR Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Jumat (17/4/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Budi didampingi oleh Vice President TJSL Rekind Herman Susatyo serta tim TJSL perusahaan, yakni Dodi Hamda dan Nurul Haromaini. Tim TJSL PT Rekind membawakan materi presentasi berjudul: Membangun Inklusi, Menjaga Keselamatan Kerja; Menciptakan difabel Mandiri dan Masyarakat Sadar K3.
Pemberdayaan Difabel Lewat Kopi Mosaik Rekind
Salah satu program unggulan yang dijalankan Rekind adalah Kopi Mosaik Rekind, sebuah program pemberdayaan penyandang disabilitas, khususnya anak-anak dengan Down Syndrom dan dan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Café Kopi Mosaik Rekind didirikan oleh Sekolah Insan Anugerah yang sebelumnya dibina Rekind untuk mendidik anak down syndrome dan ASD agar memiliki keahlian barista. Café ini berada di Gedung ROB 2 Rekind dengan captive market seluruh pekerja yang beraktivitas di area perkantoran Rekind Kalibata.
Melalui program ini, Rekind menyediakan ruang aktivitas bagi para peserta untuk mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari sekaligus berinteraksi dengan karyawan perusahaan.
Menurut Budi, program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi para penyandang disabilitas, tetapi juga membangun kepercayaan diri serta meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap kelompok difabel.
“Program Kopi Mosaik Rekind menjadi ruang inklusi yang memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi yang besar. Mereka dilatih menjadi barista dan berinteraksi langsung dengan karyawan. Ini bukan sekadar program sosial, tetapi juga upaya membangun kesadaran tentang pentingnya inklusi,” ujarnya.
Rekind menyediakan fasilitas kafe secara gratis, termasuk booth, peralatan barista, listrik, pendingin udara, hingga dukungan operasional lainnya. Kafe tersebut juga memiliki pasar yang stabil karena berada di lingkungan kantor dengan ratusan pekerja yang beraktivitas setiap hari.
Seiring waktu, program ini berkembang menjadi tempat on the job training bagi anak-anak disabilitas dari berbagai wilayah di Jakarta yang telah mengikuti pelatihan barista di lembaga pendidikan masing-masing.
Program ini juga memberikan nilai tambah bagi perusahaan dari sisi reputasi dan corporate branding sebagai perusahaan yang peduli terhadap pemberdayaan kelompok rentan.
Rekind juga melakukan pengukuran dampak sosial dari program CSR Kopi Mosaik Rekind, dengan menggunakan metode Social Return on Investment (SROI). Dalam perhitungan tersebut, nilai investasi atau input program selama periode Juli–Desember 2025 tercatat sebesar Rp 47,5 juta, yang mencakup biaya operasional booth kafe, listrik, perlengkapan kafe, promosi, hingga biaya pelatihan peserta.
Sementara itu, nilai dampak sosial yang dihasilkan dari program ini mencapai Rp 94,59 juta, yang berasal dari peningkatan keterampilan barista bagi anak dengan Down Syndrome dan ASD, peningkatan penjualan Cafe Kopi Mosaik Rekind, serta bertambahnya peserta yang mengikuti program pelatihan kerja.
Dengan memperhitungkan faktor atribusi sebesar 6%, hasil penghitungan menunjukkan nilai SROI sebesar 1,89. Artinya, setiap Rp 1 yang diinvestasikan Rekind dalam program ini mampu menghasilkan manfaat sosial sebesar Rp 1,89 bagi masyarakat.
Membangun Budaya K3
Selain program inklusi difabel, Rekind juga menjalankan program CSR yang fokus pada peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masyarakat sekitar proyek.
Salah satu implementasi utamanya dilakukan pada proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, salah satu proyek kilang terbesar di Indonesia.
Pada masa puncak proyek tersebut, jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai sekitar 20.000 orang. Tingginya aktivitas konstruksi di proyek berskala besar tersebut menuntut penerapan standar keselamatan kerja yang ketat.
Melihat kondisi tersebut, Rekind menginisiasi program pelatihan K3 bagi masyarakat sekitar proyek agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri konstruksi.
Program ini memberikan pembekalan mengenai prosedur kerja aman, identifikasi potensi bahaya, serta teknik bekerja dengan aman, khususnya untuk pekerjaan dengan risiko tinggi seperti pekerjaan di ketinggian.
“Dalam industri konstruksi, pekerjaan di ketinggian menjadi salah satu risiko terbesar yang dapat menyebabkan kecelakaan fatal. Melalui pelatihan ini kami ingin memastikan pekerja lokal memahami prosedur keselamatan sehingga dapat bekerja dengan aman,” kata Budi.
Pelatihan tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan dalam menekan risiko kecelakaan kerja, tetapi juga meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal sehingga memiliki peluang lebih besar untuk terlibat dalam proyek-proyek konstruksi.
Program ini juga berkontribusi pada peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keselamatan kerja serta perlindungan terhadap kesehatan pekerja.
PT Rekind juga mengukur dampak sosial program pelatihan K3 bagi tenaga kerja lokal di area proyek RDMP Balikpapan menggunakan metode SROI. Program ini memberikan pelatihan K3 dengan 10 materi kepada 676 tenaga kerja lokal yang terlibat di sekitar proyek.
Dalam perhitungan tersebut, total biaya program tercatat sebesar Rp 762,47 juta, sementara nilai dampak sosial yang dihasilkan mencapai sekitar Rp 1,764 miliar. Setelah memperhitungkan discount rate Bank Indonesia sebesar 5%, present value dari dampak program tercatat sekitar Rp 1,675 miliar.
Dari perhitungan tersebut diperoleh nilai SROI sebesar 6,59. Artinya, setiap Rp 1 yang diinvestasikan perusahaan dalam program pelatihan K3 ini mampu menghasilkan manfaat sosial sebesar Rp 6,59 bagi masyarakat, terutama melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal serta peningkatan keselamatan kerja di lingkungan proyek.
Beragam Program Sosial dan Lingkungan
Selain dua program unggulan tersebut, Rekind juga menjalankan berbagai inisiatif CSR lain yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Beberapa di antaranya adalah program donor darah yang berhasil mengumpulkan sekitar 150 kantong darah untuk Palang Merah Indonesia, program pendidikan keagamaan bagi sekitar 50 anak usia sekolah dasar, bantuan pendidikan bagi penyandang tuna netra, serta program pemberdayaan usaha mikro dan kecil melalui penyaluran pinjaman modal kerja bekerja sama dengan bank nasional.
Perusahaan juga menjalankan program tanggap bencana di berbagai wilayah seperti Bekasi, Cianjur, dan Aceh, serta kegiatan konservasi lingkungan melalui transplantasi terumbu karang di perairan Gili Kondo dan Gili Petagan.
Di kawasan kantor pusat, Rekind juga membangun ruang terbuka hijau yang dimanfaatkan sebagai ruang bermain dan aktivitas sosial masyarakat sekitar.
“Program-program tersebut dirancang untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat hubungan harmonis antara perusahaan dengan lingkungan sekitar,” ujar Budi.
Mendukung Keberlanjutan Proyek dan Masyarakat
Menurut Budi, implementasi program CSR di Rekind dirancang selaras dengan karakteristik bisnis perusahaan sebagai penyedia jasa EPC.
Sebagai integrator dalam ekosistem industri EPC, Rekind berperan menjembatani investasi pemilik proyek dengan berbagai pihak, mulai dari pemasok, manufaktur, hingga subkontraktor. Oleh karena itu, keberhasilan proyek juga sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial di sekitar lokasi proyek.
“Keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh bagaimana perusahaan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Di sinilah program CSR memiliki peran penting,” ujarnya.
Selain dua program unggulan tersebut, Rekind juga menjalankan berbagai program TJSL lainnya, antara lain kegiatan donor darah, program pendidikan keagamaan, bantuan bagi anak yatim, pelatihan keterampilan bagi masyarakat sekitar proyek, hingga dukungan pendidikan bagi penyandang tuna netra.
Perusahaan juga memberikan dukungan pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil (UMK) melalui program pinjaman modal kerja.
Di bidang lingkungan, Rekind juga aktif menjalankan berbagai kegiatan seperti penanaman pohon serta pengelolaan dampak lingkungan dalam operasional proyek.
Penguatan Tata Kelola dan ESG
Dalam aspek tata kelola, Rekind menempatkan pelaksanaan CSR di bawah koordinasi unit Sekretaris Perusahaan melalui Divisi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang melapor langsung kepada Direksi.
Perusahaan juga menerapkan berbagai kebijakan tata kelola yang mencakup sistem manajemen anti-penyuapan, pengendalian gratifikasi, pelaporan pelanggaran, hingga sistem e-procurement untuk memastikan transparansi dalam proses pengadaan barang dan jasa.
Selain itu, Rekind juga mendorong penerapan prinsip ESG di seluruh rantai pasok dengan mensyaratkan vendor dan subkontraktor memenuhi standar keselamatan kerja, pengelolaan limbah, serta kepatuhan terhadap perlindungan tenaga kerja.
“Pendekatan ini memastikan bahwa keberlanjutan tidak hanya diterapkan di internal perusahaan, tetapi juga di seluruh ekosistem bisnis kami,” kata Budi.
Rekam Jejak Proyek dan Kinerja Keselamatan
Sebagai perusahaan EPC nasional yang telah beroperasi lebih dari 45 tahun, Rekind memiliki pengalaman luas dalam pembangunan berbagai fasilitas industri strategis di Indonesia.
Perusahaan telah berkontribusi dalam pembangunan lebih dari 140 fasilitas industri di berbagai sektor, mulai dari industri pupuk dan petrokimia, minyak dan gas, pembangkit listrik, hingga industri mineral.
Rekind juga terlibat dalam pembangunan berbagai proyek strategis nasional, seperti proyek gas Jambaran Tiung Biru, pabrik amonia Banggai, pembangunan pembangkit listrik panas bumi, hingga proyek kilang RDMP Balikpapan.
Dalam aspek keselamatan kerja, perusahaan juga mencatat capaian yang signifikan dengan total lebih dari 381 juta jam kerja aman hingga tahun 2026.
Budi menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari komitmen perusahaan dalam menerapkan standar keselamatan kerja yang tinggi serta keterlibatan masyarakat dalam berbagai program CSR.
“Bagi kami, keberlanjutan bisnis harus berjalan seiring dengan keberlanjutan sosial dan lingkungan. Program TJSL menjadi salah satu cara perusahaan memastikan bahwa kehadiran kami memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Budi.
PT Rekind juga memiliki rekam jejak positif dalam ajang TOP CSR Awards. Perusahaan meraih predikat Bintang 4 pada TOP CSR Awards 2021, dan kembali mempertahankan capaian yang sama pada TOP CSR Awards 2024. Pada tahun ini, Rekind juga masuk sebagai kandidat peraih TOP CSR Awards 2026, menunjukkan konsistensi perusahaan dalam menjalankan program CSR yang terintegrasi dengan strategi bisnis berkelanjutan.
