Jakarta, TopBusiness – PT Adhi Karya (Persero) Tbk (IDX: ADHI) senantiasa konsisten untuk mengadakan program Corporate Social responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Dalam melakukan program TJSL-nya, ADHI selalu melaksanakan yang sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau sustainable development goals (SDG’s), sehingga terarah dan berdampak maksimal demi tercapainya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkesinambungan dan berkelanjutan.
“Dalam pelaksanaan Program TJSL di tahun 2023, ADHI berpedoman pada ISO 26000 yang berfokus pada core subject Community Involvement & Development (Keterlibatan & Pengembangan Masyarakat),” demikian seperti dikatakan oleh Sri Mulyono, Senior CSR & TJSL PT Adhi Karya (Persero) Tbk saat sesi wawancara penjurian TOP CSR Awards 2023 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness, beberapa waktu lalu, secara online.
Dengan demikian, maka program-program TJSL yang dilakukannya itu sudah mendukung bisnis berkelanjutan atau sesuai dengan TPB. Beberapa program yang tepat sasaran pun sudah dilakukan, baik itu terhadap masyarakat sekitar maupun dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan.
Banyaknya program TJSL yang digelar ADHI tak lepas dari nama besar ADHI sendiri yang memang kiprahnya sudah sangat panjang. ADHI didirikan tahun 1960, yang merupakan sebagai Badan Usaha Milik Negara Jasa Konstruksi sedang membangun Proyek Strategis Nasional (PSN) yang memberikan dampak kepada ekonomi.
Beberapa proyek PSN seperti Light Rail Transit Jabodebek, Jalan Tol Sigli-Banda Aceh, Jalan Tol Yogyakarta-Bawen, Jalan Tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulon Progo, dan Pos Lintas Batas Negara Terpadu Serasan, Kab. Natuna, dan banyak lagi.
Lini bisnis ADHI ada empat yaitu bisnis engineering & construction, property & hospitality, manufacture, dan investment & concession. Dengan porsi kepemilikan saham ADHI saat ini adalah dipegang Pemerintah sebesar 64% dan publik sebanyak 36%.
Dalam menggelar program TJSL ini, ADHI senantiasa berpatokan pada dasar humum yaitu UU No. 40 tahun 2007 dan PerMen PER-01/MBU/03/2023. Dengan beberapa program yang sudah dilakukan adalah ADHI Pintar berupa Program pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraan dalam bidang pendidikan.
Lalu ada ADHI Lestari, program penanganan dampak lingkungan. ADHI Berbagi, program pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan ADHI UMK, berupa program pemberdayaan usaha mikro dan kecil (UMK) dan program peningkatan kapasitas UMK.
“Program untuk UMK ini selaras dengan PER-01/MBU/03/2023 Pasal 21, yaitu di ayat (2) disebutkan, ‘Usaha mikro dan usaha kecil yang dapat menjadi mitra binaan BUMN sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi kriteria sebagai berikut: di poin (c) disebutkan diutamakan usaha mikro dan usaha kecil dengan jenis usaha yang sejalan dengan bidang dan/atau mendukung bisnis BUMN’. Makanya beberapa program TJSL kami sudah adopsi prinsip CSV (creating shared value) dan ISO 26000,” papar dia.
Adopsi CSV dan ISO 26000
Lebih lanjut Sri Mulyono menegaskan, ada beberapa program CSR atau TJSL yang sudah selaras dengan prinsip CSV dan mengadopsi ISO 26000. Dengan fokus utamanya adalah kepada Community Involvement & Development atau keterlibatan & pengembangan masyarakat.
Program pertama adalah Program ADHI Menagajar. Dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ADHI ke-63, ADHI hadir ke berbagai SMA & SMK untuk mengadakan kegiatan mengajar. Materi yang diberikan oleh ADHI bermacam-macam dan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing lokasi tesebut.
Adapun lokasi ADHI Mengajar adalah SMA 2 Ponorogo (Jawa Timur), SMKN 52 Jakarta (DKI Jakarta), SMAN 1 Lampung, FT UNS (Surakarta), SMAN 15 Bekasi (Jawa Barat), SMKN 2 Kraksaan, Probolinggo (Jatim), dan SMAN 1 Mataram (NTB).
“Dalam program dilakukan terhadap sebanyak 892 orang jumlah siswa atau mahasiswa peserta kegiatan. Dengan dampak positifnya dari program ini adalah mempersiapkan angkatan kerja masa depan, meningkatkan kompetensi SDM Indonesia, dan enambah Tenaga Kerja Potensial di industri konstruksi. Sehingga ADHI menerima manfaat dari program ini,” jelas dia.
Program kedua adalah ADHI Green. Kata Sri Mulyono, program lain yang dilaksanakan dalam rangka HUT ADHI ke-63 adalah ADHI Green. Pada kegiatan ini ADHI melaksanakan penanaman pohon di 63 proyek ADHI. Totalnya sebanyak 63.630 pohon yang sudah ditanam di 30 provinsi.
Adapun ke-30 provinsi tersebut adalah, Aceh, Bali, Bangka Belitung, Bengkulu, D.I.Y., Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kep. Riau, Lampung, Maluku, NTB, NTT, Papua, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
Dengan manfaat program tersebut adalah dapat memitigasi dampak operasi ADHI terhadap lingkungan, meningkatkan kualitas udara daerah, berkontribusi terhadap pengurangan gas rumah kaca (GRK) global, dan meningkatkan kontribusi Indonesia terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Global.
Program ketiga, UMKM Goes to Hotel. Dalam program ini, sudah ada beberapa realisasi Mitra Binaan ADHI di tahun 2022 adalah Mitra Binaan Pedagang Pemasok Hotel yang terdiri dari 4 Pedagang UMK, di mana produk mereka berpotensi untuk dipasarkan di hotel yang dikelola ADHI.
Dengan mitra binaan yang semua sector perdagangan adalah UMK Difable BJHOMEMADE yang memasok sayur mayor, susu sapi, dan slipper. Lalu UMK Yasata yang memasok daging ayam. Selanjutnya, UMK Mr. K yang memasok telur. Dan UMK Tangan Tangen yang memasok kopi dan the serta fruity drink.
“Jadi, salah satu kegiatan TJSL yang dilakukan ADHI di tahun 2022 lalu itu adalah Program PUMK. Di program ini, ADHI melakukan tambahan modal dan pembinaan kepada mitra binaan yang memiliki keterikatan langsung dengan salah satu bisnis inti perusahaan,” dia menerangkan.
“Kegiatan Penyaluran ini termasuk salah satu Program TJSL yang sudah mengadospi Creating Shared Value yang memberikan manfaat positif baik untuk ADHI maupun Mitra Binaannya. Program ini sebagai dukungan upaya pemerintah untuk memajukan UMKM,” papar Sri Mulyono lagi.
Adapun dampak positif dari program UMK ini buat ADHI sendiri berupa mendapatkan pemasok yang berkualitas dengan harga kompetitif, sebuah bentuk tanggung jawab sosial ADHI, dan pengembangan komunitas masyarakat sekitar ADHI.
Sementara dampak positif bagi mitra binaan adalah, peningkatan kualitas produk dan daya saing produk, peningkatan kapasitas produksi dan adanya potensi mendapatkan captive market.
Dia pun membeberkan beberapa kondisi UMK selama ini. Sejatinya, dari sisi business opportunity memang adanya potensi peningkatan kapasitas produksi dan harga produk kompetitif, tapi belum dilakukan sebelum menjadi mitra binaan.
Kemudian secara company assets and expertise atau aset dan keahlian perusahaan, adanya kebutuhan peningkatan kompetensi mitra binaan, dan jaminan kualitas bahan pasokan di industri hotel milik ADHI. Dengan social needs-nya, adanya kebutuhan lapangan kerja, pembinaan usaha dan bantuan modal, serta CSR berdasaran ISO 26000 tersebut.
“Sehingga dengan adanya mitra binaan dari ADHI ini, maka hotel milik ADHI mendapat manfaat dari SDM yang unggul, bahan baku makanan yang berkualitas, kondisi amenities yang meningkat, dan operasional yang terjaga,” pungkas dia.
Untuk diketahui, amenities adalah bagian dari fasilitas kamar hotel yang disediakan dengan tujuan agar tamu betah ketika mereka menginap dan menambah value. Salah satunya seperti sandal hotel yanghasil dari mitra binaan UMK itu.
Adapun program-program TJSL lainnya yang sudah digelar tahun ini adalah, Program Santri Juara, Program Renovasi Sarana Ibadah, Pencetakan Buku Moderasi Beragama Dalam Bingkai Kebhinekaan, Kegiatan Sosial HUT ADHI Ke-63, Haul dan Ahirusanah TPQ Darusalam, Dharma Santi BUMN, Safari Ramadhan 2023, Mudik Dinanti, Mudik Di Hati Bersama BUMN 2023, serta Bantuan Fasilitas Desa.
