Jakarta, TopBusiness – Dalam upaya memperkuat kontribusi terhadap sektor pertanian sekaligus menciptakan nilai tambah bagi bisnis, Chief Corporate Affairs PT Naga Berkat Indonesia (Gokomodo), Witny Virgiany Tanod, menegaskan bahwa program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) tidak lagi dipandang sekadar kewajiban, melainkan sebagai strategi berkelanjutan yang berdampak langsung pada ekosistem usaha.
Hal tersebut disampaikan Witny dalam pemaparan program CSR unggulan perusahaan bertajuk IMPACT—Inisiasi Masyarakat Pertanian Cerdas dan Terpadu. Program ini menjadi salah satu fokus utama Gokomodo dalam menjawab tantangan nyata yang dihadapi petani, khususnya di wilayah Kalimantan.
“Kami menyadari bahwa sebagai perusahaan, CSR bukan hanya mandatori, tetapi juga dapat menjadi added value yang sangat membantu bisnis sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Witny dalam penjelasan materi bertajuk IMPACT – Inisiasi Masyarakat Pertanian Cerdas dan Terpadu: Pertanian Hebat, Petani Sejahtera, di Jakarta, Kamis (16/04/2026) secara daring
Sebagai perusahaan yang berawal dari model bisnis trading pupuk sejak 2019, Gokomodo melihat adanya kesenjangan besar dalam rantai pasok sektor pertanian, terutama di tingkat petani kecil. Akses terhadap produk berkualitas, harga yang kompetitif, serta informasi praktik pertanian yang baik masih menjadi persoalan utama.
Menurut Witny, banyak petani yang masih rentan terhadap berbagai risiko, mulai dari penggunaan pupuk yang tidak terjamin kualitasnya hingga minimnya pemahaman terkait Good Agricultural Practices (GAP).
“Kita yang berada di kota besar sering kali lupa bahwa kondisi di lapangan sangat berbeda. Petani di daerah masih memiliki keterbatasan akses informasi dan pilihan produk,” jelasnya kepada Dewan Juri TOP CSR Awards 2026.
Seiring berkembangnya perusahaan dan masuknya pendanaan pada 2022, Gokomodo kemudian memperluas model bisnis melalui pembangunan jaringan distribusi ritel agrikultur bernama Gokomart.
Melalui Gokomart, perusahaan menghadirkan akses yang lebih dekat bagi petani terhadap input pertanian seperti pupuk dan produk pendukung lainnya dengan harga yang lebih kompetitif. Ekspansi dilakukan secara bertahap, dimulai dari Kalimantan Barat hingga merambah Kalimantan Tengah.
Perusahaan agribisnis di bawah naungan Naga Berkat Indonesia, Gokomart, terus memperkuat posisinya sebagai perusahaan rantai pasok (supply chain) sektor agrikultur dengan ekspansi jaringan distribusi yang agresif. Sejak didirikan pada 2023, Gokomart mengusung visi besar untuk memberdayakan sektor pertanian sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Witny menjelaskan bahwa Gokomart hadir dengan fokus utama sebagai penyedia kebutuhan agrikultur (agri input) yang terintegrasi dan mudah diakses oleh petani di berbagai wilayah Indonesia.
“Visi kami adalah menjadi supply chain company agri input terdepan di Indonesia. Kami ingin memberdayakan sektor agrikultur sekaligus menggerakkan ekonomi daerah,” ujar Witny.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Gokomart membawa sejumlah misi strategis, mulai dari menghadirkan produk berkualitas dengan harga kompetitif hingga mempercepat akses distribusi melalui jaringan fisik yang terus diperluas.
“Kami ingin menghadirkan produk yang berkualitas, dengan harga yang bersaing, dan akses yang lebih cepat. Selain itu, kami juga membangun jaringan distribusi fisik serta meningkatkan ekonomi lokal secara langsung agar masyarakat bisa lebih sejahtera,” jelasnya.
Sejak awal berdiri, Gokomart menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pada tahun 2023, perusahaan memulai operasional dengan membangun dua toko perdana di wilayah Bodok, Kalimantan Barat.
“Di tahun 2023, kami mulai dengan satu toko di Bodok, Kalimantan Barat, dan total dua toko di tahun pertama,” kata Witny.
Ekspansi kemudian berlanjut secara lebih agresif pada tahun berikutnya. Sepanjang 2024, Gokomart menambah 22 toko baru yang masih terfokus di wilayah Kalimantan Barat.
“Di tahun 2024, kami ekspansi di Kalimantan Barat dengan membangun 22 toko,” ungkapnya.
Momentum pertumbuhan tersebut terus berlanjut pada 2025. Gokomart berhasil meningkatkan jumlah jaringan tokonya menjadi 52 unit sekaligus memperluas jangkauan ke provinsi lain.
“Di tahun 2025, kami berhasil mencapai 52 toko dan mulai ekspansi ke Kalimantan Tengah,” lanjut Witny.
Memasuki 2026, perusahaan menargetkan ekspansi yang jauh lebih masif. Gokomart berencana menambah sekitar 120 toko baru guna memperluas jangkauan distribusi ke lebih banyak petani di berbagai daerah.
“Di tahun 2026 ini, kami berencana menambah sekitar 120 toko lagi. Jadi ekspansi akan dilakukan secara masif agar jaringan distribusi kami semakin besar dan jangkauan ke petani juga semakin luas,” tegasnya.
Dengan strategi tersebut, Gokomart optimistis dapat memperkuat ekosistem agrikultur nasional sekaligus menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan di tingkat lokal.
“Kami ingin memastikan bahwa kehadiran kami benar-benar memberikan dampak langsung, baik dari sisi akses, harga, maupun peningkatan kesejahteraan petani,” ucap Witny.
Dari Bantuan ke Pemberdayaan Berkelanjutan
Melihat kebutuhan yang lebih mendalam dari sekadar distribusi produk, Gokomodo kemudian meluncurkan program CSR IMPACT pada akhir 2024. Program ini dirancang untuk memberikan solusi terintegrasi melalui tiga pilar utama, yakni Pionir, Optimal, dan Sahabat.
“Kami adalah startup yang sedang bertransformasi menjadi perusahaan yang lebih matang. Kami percaya bahwa pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan kontribusi nyata kepada masyarakat,” kata Witny didampingi Riansyah Sonic sebagai Public Affairs, dan FatkhulFarkhani (Project Lead IMPACT).
Dengan pendekatan yang menggabungkan teknologi, distribusi, dan pemberdayaan, Gokomodo optimistis program IMPACT dapat menjadi model CSR yang tidak hanya relevan, tetapi juga berkelanjutan dalam mendukung kesejahteraan petani dan penguatan ekonomi daerah.
Witny menjelaskan bahwa perubahan pendekatan ini berangkat dari evaluasi terhadap pola CSR sebelumnya yang dinilai belum sepenuhnya memberikan dampak berkelanjutan.
“Dulu CSR kami cenderung reaktif, menunggu proposal masuk lalu disesuaikan dengan program yang ada. Sekarang kami mencoba lebih proaktif, memikirkan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh pemangku kepentingan utama kami, khususnya petani,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini program CSR lebih banyak berfokus pada pembangunan infrastruktur atau bantuan sosial yang mengacu pada pilar-pilar CSR serta standar seperti ISO. Meskipun memberikan manfaat, pendekatan tersebut dinilai belum cukup kuat dalam meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat secara berkelanjutan.
“Dampaknya ada, tetapi belum maksimal dalam meningkatkan kemampuan petani. Karena itu, kami mencoba merancang program yang tidak hanya memberi bantuan, tetapi juga meningkatkan kompetensi dan produktivitas mereka,” tambahnya.
Program Masyarakat Pertanian Cerdas dan Terpadu dibangun dengan konsep yang lebih terstruktur melalui tiga pilar utama, yaitu Pionir, Optimal, dan Sahabat. Ketiga pilar ini dirancang saling terintegrasi untuk menciptakan ekosistem pertanian yang lebih maju dan berkelanjutan.
Pada pilar pertama, yakni Pionir, perusahaan mengambil peran sebagai penggerak awal dalam memperkenalkan praktik pertanian yang lebih baik di tingkat regional. Salah satu implementasinya adalah melalui demo plot atau lahan percontohan.
“Melalui demo plot, petani bisa melihat langsung bagaimana praktik pertanian yang baik itu diterapkan. Jadi bukan hanya teori, tetapi langsung praktik di lapangan,” jelas Witny.
Selanjutnya, pilar Optimal menjadi tahap penguatan dari inisiasi tersebut. Dalam tahap ini, perusahaan tidak hanya memberikan contoh, tetapi juga melakukan pendampingan secara intensif kepada petani.
Program yang dikenal dengan istilah “bedah kebun” menjadi salah satu kegiatan utama dalam pilar ini. Tim khusus diterjunkan untuk melakukan asesmen menyeluruh terhadap kondisi lahan, metode budidaya, hingga tantangan yang dihadapi petani.
“Kami tidak hanya datang dan memberi saran, tetapi benar-benar mendampingi. Mulai dari identifikasi masalah sampai implementasi solusi. Jadi ada pengawalan yang berkelanjutan,” ungkap Witny.
Melalui pendekatan ini, diharapkan petani dapat meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi dalam pengelolaan lahan mereka. Pendampingan yang diberikan juga disesuaikan dengan kondisi spesifik masing-masing wilayah sehingga solusi yang diterapkan lebih tepat guna.
Sementara itu, pilar ketiga, Sahabat, menitikberatkan pada aspek edukasi dan dukungan berkelanjutan. Dalam pilar ini, perusahaan berperan sebagai mitra yang dekat dengan petani, menyediakan akses terhadap informasi, pelatihan, serta sarana pendukung pertanian.
“Edukasi menjadi kunci. Kami ingin petani tidak hanya ikut-ikutan, tetapi benar-benar paham mengapa suatu metode digunakan dan bagaimana dampaknya,” kata Witny.
Ia menekankan bahwa keberlanjutan program sangat bergantung pada pemahaman petani terhadap praktik pertanian modern. Oleh karena itu, edukasi dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya dalam bentuk pelatihan, tetapi juga melalui pendampingan langsung di lapangan.
Ketiga pilar tersebut—Pionir, Optimal, dan Sahabat—dirancang sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Pionir berfungsi sebagai penggerak awal, Optimal sebagai penguat implementasi, dan Sahabat sebagai penjaga keberlanjutan program.
Dengan pendekatan ini, program CSR tidak lagi sekadar menjadi kegiatan filantropi, tetapi bertransformasi menjadi katalisator perubahan yang mampu mendorong peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani.
Witny menegaskan bahwa inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat hubungan dengan pelanggan.
“Kami ingin CSR ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh pelanggan. Jadi bukan hanya sekadar program, tetapi menjadi bagian dari ekosistem yang saling menguntungkan,” ujarnya.
