Jakarta, TopBusiness — PT Tsingcheng Technology Indonesia (TCTI) membangun sistem human capital sejak perusahaan masih berada pada fase greenfield. Bagi perusahaan industri klor-alkali yang beroperasi di kawasan IMIP, Morowali, kesiapan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari kesiapan operasi, mengingat karakter bisnis yang membutuhkan kompetensi teknis, disiplin, keselamatan, dan kepatuhan tinggi.
HR Staff PT Tsingcheng Technology Indonesia, Vira, mengatakan pengembangan human capital dilakukan bersamaan dengan pembangunan bisnis, bukan setelah perusahaan mencapai kondisi matang.
“Kami tidak hanya ingin menunjukkan program Human Capital yang kami jalankan, tetapi perjalanan bagaimana kami membangun sistem kapabilitas dan kepercayaan sejak perusahaan masih berada pada fase Greenfield. Tema kami sederhana, From Greenfield to Sustainable Industry, Human Capital dibangun bersamaan dengan bisnis, bukan setelah bisnis menjadi matang,” ujar Vira, saat sesi penjurian TOP Human Capital (HC) Awards 2026 yang digelar Majalah TopBusiness, Senin (14/9/2026).
TCTI memiliki investasi sekitar Rp1,33 triliun dengan area sekitar 13 hektare. Perusahaan memproduksi NaOH, HCl, NaClO, dan Cl2 atau gas klorin. Untuk mendukung operasinya, TCTI menggunakan teknologi membran ionic dengan enam electrolyzer.
“Konsekuensinya bagi HC jelas. Kami membutuhkan orang yang kompeten, disiplin, aman, dan mampu menyerap know-how teknis dengan cepat. Karena itu, arah human capital kami harus konsisten dengan visi dan misi perusahaan,” kata Vira.
Pengelolaan HC kemudian diarahkan untuk menerjemahkan visi dan misi perusahaan ke dalam kebijakan, SOP, pengembangan kompetensi, dan mekanisme perlindungan karyawan. HC bekerja lintas fungsi bersama production, HSE, general affairs, finance, warehouse, logistik, dan bisnis.
Karena masih berada dalam fase pembangunan menuju operasi komersial, TCTI tidak menjadikan revenue atau ROHCI sebagai satu-satunya ukuran kontribusi HC. Perusahaan lebih menekankan operational readiness, workforce fulfillment, critical role readiness, local capability transfer, compliance readiness, serta cakupan pelatihan dan sertifikasi.
Dalam waktu sekitar 20 bulan, jumlah tenaga kerja TCTI tumbuh dari 11 orang menjadi 135 orang dan mencapai 181 orang pada Agustus 2026. Namun, pertumbuhan tersebut bukan sekadar mengejar jumlah tenaga kerja.
“Tetapi tesis kami bukan sekedar scaling. Kami membangun tiga hal bersamaan. Sistem yang patuh, SDM yang siap, dan kepercayaan. Tiga elemen ini kemudian menjadi benang merah seluruh presentasi kami,” ujar Vira di hadapan dewan juri TOP Human Capital Awards 2026 antara lain Dwinda Ruslan (Yayasan Pakem), Ben de Haan (MSI), Aldrin Herwany (Institute Jakarta), dan Ina Sawitri (Yayasan Pakem).
Memperkuat Kapabilitas Lokal
Pembangunan sistem HC diperkuat dengan standardisasi rekrutmen. Proses dimulai dari kebutuhan bisnis yang diterjemahkan menjadi work order, kemudian melalui screening, interview HR dan user, MCU, induction, hingga bergabung.
Pada 2025, TCTI mencatat 162 new hires, sementara sepanjang Januari-Agustus 2026 terdapat 78 new hires. Sekitar 95% cohort 2025 juga bertahan hingga tiga bulan. Rekrutmen pada posisi tertentu, seperti operator dan driver, dilengkapi technical test dan operational skill assessment.
Bagi TCTI, ukuran keberhasilan rekrutmen bukan sekadar volume perekrutan, tetapi kemampuan mengisi kebutuhan bisnis sekaligus mempertahankan tenaga kerja.
Penguatan kapabilitas juga dilakukan melalui transfer pengetahuan dari tenaga kerja asing kepada tenaga kerja Indonesia. TCTI membangun pasangan TKA-TKI dengan target kompetensi dan dokumentasi transfer. Saat ini terdapat 23 pasangan pada lebih dari lima klaster kompetensi, termasuk chemical process, HCl production, maintenance, finance, dan project.
“Business value-nya bukan hanya training. Ini adalah knowledge retention, operational continuity, dan pengurangan dependensi jangka panjang terhadap tenaga ahli asing,” kata Vira.
Pendekatan tersebut berjalan bersama pengembangan employee experience. Survei kepuasan 2025 menghasilkan skor 78,9%, sementara 100% karyawan telah tercakup BPJS Kesehatan. Sekitar 85% tenaga kerja juga berasal dari komunitas lokal Morowali.
TCTI turut membangun mekanisme perlindungan karyawan melalui P2KS dan BA CERITA. Mekanisme tersebut mengedepankan confidentiality, non-retaliation, fairness objectivity, serta perlindungan korban dan saksi.
“Jadi employee voice kami hubungkan dengan perlindungan, investigasi, dan tindak lanjut, bukan hanya menerima keluhan,” ujar Vira yang pada saat presentasi didampingi sejumlah rekan dari TCTI, antara lain Aditya Dermawan (HR Head), Agung Hasudungan (HR), Rizky Bazresy (HR), dan Afriani Nur Aulia (HR).
Digitalisasi
Digitalisasi menjadi bagian lain dari perjalanan HC TCTI. Perusahaan telah menggunakan Face ID, recruitment tracking, HR Dashboard, dan pelaporan bulanan sebagai dasar decision support. Sementara AI Agent untuk kepatuhan hubungan industrial masih dalam tahap desain dengan prinsip human in the loop.
TCTI juga mulai memanfaatkan data hubungan industrial. Dari 102 kasus IR yang tercatat, sebanyak 79,4% terkonsentrasi pada persoalan kehadiran dan disiplin. Data tersebut digunakan untuk mengarahkan intervensi preventif.
Ke depan, perusahaan menyiapkan digitalisasi manajemen kepatuhan karyawan, otomasi penerbitan surat peringatan dan jejak audit, serta AI Assistant berbasis 5W1H untuk membantu penyusunan analisis kasus. Keputusan akhir tetap berada pada manusia.
Seluruh perjalanan tersebut dirangkum dalam tiga pilar, yakni Build The System, Localized Capability, dan Build The Trust. Sistem dibangun melalui kebijakan, SOP, SLA, keputusan Direksi, audit norma, dan perlindungan karyawan. Kapabilitas lokal diperkuat melalui rekrutmen, pelatihan, dan transfer pengetahuan. Sementara kepercayaan dibangun melalui kanal aspirasi, perlindungan, dan mekanisme hubungan industrial.
“Ketiga pilar ini saling mengunci. Sistem tanpa capability tidak cukup, capability tanpa trust tidak bertahan, dan trust tanpa governance tidak akan sustainable,” tutur Vira.
Bagi TCTI, pembangunan human capital sejak ground zero menjadi fondasi untuk menjaga kesinambungan operasi dan pertumbuhan perusahaan.
“Kekuatan kami bukan maturity yang kami warisi, tetapi human capital system yang kami bangun dari ground zero. Kami ingin memastikan operasi kimia TCTI tumbuh dengan tenaga kerja yang adaptif, kompeten, terlindungi, dan mampu menjaga kesinambungan bisnis untuk 5 tahun ke depan,” pungkas Vira.
