Jakarta, TopBusiness — Transformasi bisnis PT Brinks Solutions Indonesia tidak hanya dilakukan melalui pengembangan layanan cash management dan secure logistics, tetapi juga dengan membangun kapabilitas sumber daya manusia yang mampu mengikuti perubahan bisnis dan teknologi.
Tak ayal, perusahaan pun menempatkan Human Capital Management System (HCMS) sebagai bagian dari strategi dalam mengelola talenta, meningkatkan produktivitas, sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis.
Human Resource Director PT Brinks Solutions Indonesia, Yustianto, menjelaskan, strategi human capital perusahaan diselaraskan dengan visi, misi, dan strategi bisnis, terutama dalam mendukung layanan Total Cash Management, secure logistics, operational excellence, dan customer service.
“Human Capital merupakan bagian integral dari Corporate Strategy PT Brinks Solutions Indonesia karena kualitas dan kompetensi karyawan memiliki peran penting dalam keberhasilan operasional perusahaan,” kata Yustianto saat sesi penjurian TOP Human Capital Awards 2026.
Posisi tersebut semakin penting seiring transformasi Brinks pada periode 2024–2026. Perusahaan secara bertahap berkembang dari penyedia jasa transportasi uang menjadi penyedia solusi cash management yang lebih terintegrasi dan berbasis teknologi. Bisnis yang mencakup Cash-in-Transit, Cash Processing, Cash Vaulting, ATM Services, Total Cash Management hingga secure logistics membutuhkan tenaga kerja yang kompeten, profesional, dan mampu memberikan layanan yang aman serta berkualitas.
Karena itu, pengelolaan human capital tidak lagi sekadar menjalankan fungsi administrasi. HC diposisikan sebagai strategic partner untuk memastikan ketersediaan talent, peningkatan kompetensi, produktivitas, dan kesiapan organisasi menghadapi perubahan.
“Strategi Human Capital tidak hanya berfungsi sebagai pendukung administrasi, tetapi juga menjadi strategic partner dalam memastikan ketersediaan talent, peningkatan kompetensi, produktivitas, serta kesiapan organisasi menghadapi perubahan bisnis dan perkembangan teknologi,” jelasnya.
Digitalisasi HCMS Dorong Efisiensi dan Produktivitas
Salah satu fondasi transformasi human capital Brinks adalah digitalisasi. Perusahaan memanfaatkan dua Human Resources Information System (HRIS), yakni Sunfish dan Workday, untuk mendukung pengelolaan data dan proses HC secara digital.
Pemanfaatan kedua sistem tersebut membantu meningkatkan efisiensi administrasi, mempermudah pengelolaan informasi karyawan, serta membuat proses HR lebih terstruktur dan terintegrasi.
Digitalisasi juga diterapkan melalui Employee Self-Service (ESS) dan Manager Self-Service (MSS) menggunakan platform GreatDay. Melalui ESS, karyawan dapat mengakses portal informasi, mengelola absensi, melihat slip gaji, hingga mengajukan cuti secara digital.
Sementara melalui MSS, manager dapat mengecek absensi, menyetujui cuti, mengakses informasi karyawan, dan memantau data tim secara mandiri.
“Penerapan ESS melalui GreatDay memberikan beberapa manfaat, antara lain meningkatkan efisiensi waktu, meningkatkan transparansi informasi, serta mendukung proses administrasi yang lebih akurat,” demikian dijelaskan Brinks.
Digitalisasi workflow juga terus diperluas. Salah satunya melalui distribusi kontrak kerja karyawan di seluruh Indonesia yang dilakukan secara digital menggunakan iLovePDF. Langkah ini mengurangi penggunaan kertas dan proses administrasi manual sekaligus mendukung pengembangan workflow yang lebih efisien dan paperless.
Dampak HCMS tidak berhenti pada efisiensi administrasi. Digitalisasi dan integrasi proses seperti performance management, learning and development, employee data, serta workforce management membantu HC mengurangi pekerjaan administratif sehingga dapat lebih fokus pada aktivitas yang memberikan nilai tambah bagi bisnis.
Sistem HCM juga menyediakan data dan insight mengenai workforce yang dapat digunakan manajemen dalam mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat. Informasi mengenai kompetensi, kinerja, kebutuhan tenaga kerja, dan pengembangan talenta membantu perusahaan memastikan ketersediaan right people, right skills, at the right time.
Selain produktivitas, digitalisasi berkontribusi terhadap efisiensi biaya melalui pengurangan proses manual, duplikasi pekerjaan, serta penggunaan dokumen administratif. Otomatisasi workflow, data terintegrasi, dan self-service membantu mengoptimalkan sumber daya dalam pengelolaan karyawan.
Membangun Talenta dan Organisasi Berkelanjutan
Transformasi human capital Brinks tidak hanya bertumpu pada teknologi. Perusahaan juga membangun learning culture melalui berbagai program pengembangan karyawan.
Program tersebut antara lain BRAIN atau Brinks Academy Indonesia, yang menyediakan pelatihan internal bagi karyawan dari berbagai departemen dan level. Ada pula BRIDGES atau Brinks Department Knowledge Sharing, yakni knowledge sharing antar-departemen yang dilakukan rutin setiap bulan.
Melalui BRIDGES, karyawan dapat berbagi proses kerja, pengalaman, maupun menjadi Subject Matter Expert (SME) dalam bidang tertentu. Sementara BORN atau Brinks Onboarding memberikan pembekalan dan pengenalan perusahaan bagi karyawan baru.
Brinks juga menyediakan program upskilling untuk memperkuat kompetensi yang relevan dengan kebutuhan bisnis dan perkembangan industri, serta mendukung karyawan memperoleh sertifikasi profesi.
Di sisi kepemimpinan, pimpinan terlibat dalam pengembangan talenta melalui coaching, mentoring, evaluasi kinerja, dan pemberian kesempatan pengembangan. Pendekatan ini membantu perusahaan mengidentifikasi potensi dan kebutuhan pengembangan karyawan sekaligus membangun talent pipeline yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Employee experience menjadi aspek lain yang diperkuat. Brinks melakukan Engagement Survey setiap tahun untuk memahami tingkat engagement, kebutuhan, dan pengalaman karyawan. Perusahaan juga menyediakan Employee Voice sebagai ruang bagi karyawan menyampaikan feedback, ide, dan aspirasi yang kemudian menjadi masukan bagi HC dan manajemen.
Komunikasi internal dijaga melalui BRIGHTS atau Brinks Insights, newsletter yang menyampaikan informasi mengenai project, event, aktivitas, dan berbagai perkembangan perusahaan.
“Secara keseluruhan, inisiatif ini mendukung terciptanya budaya kerja yang terbuka, responsif, kolaboratif, dan employee-oriented,” tandasnya.
Aspek employee well-being juga menjadi perhatian melalui Health Talk, donor darah setiap tiga bulan, Mini MCU, dan berbagai aktivitas olahraga. Program tersebut diarahkan untuk mendukung kesehatan fisik dan mental, sekaligus menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Dalam hal diversity and inclusion, Brinks memberikan kesempatan yang setara kepada karyawan untuk bergabung, berkontribusi, dan berkembang. Salah satu implementasinya adalah keterlibatan sembilan karyawan penyandang disabilitas dalam organisasi.
“Brinks meyakini bahwa keberagaman merupakan salah satu kekuatan organisasi,” demikian pernyataan perusahaan.
Komitmen tersebut diperkuat melalui respect culture yang mendorong karyawan menghargai perbedaan, bekerja sama secara positif, serta memperlakukan rekan kerja secara profesional dan setara.
Lebih jauh, HCMS mendukung keberlanjutan organisasi melalui workforce planning, succession planning, performance management, dan talent management. Sistem memastikan data, proses, dan knowledge HC terdokumentasi serta dapat dikelola secara berkelanjutan.
“Dengan adanya visibility terhadap talent dan development needs, HC dapat merancang program pembelajaran dan career development yang mendukung peningkatan kompetensi serta kesiapan talent untuk kebutuhan bisnis di masa depan,” demikian dijelaskan Brinks.
Pada akhirnya, penerapan HCMS di Brinks memperlihatkan bahwa digitalisasi human capital bukan sekadar perpindahan proses administrasi dari manual ke digital. Teknologi digunakan untuk membangun pengelolaan HC yang lebih terstruktur, berbasis data, efisien, dan selaras dengan kebutuhan bisnis.
Pemanfaatan HCMS juga mendukung aspek sosial dalam ESG melalui employee development, learning, diversity and inclusion, employee engagement, serta workforce well-being. Data yang terdokumentasi dan terukur memungkinkan berbagai inisiatif human capital dipantau dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Berbagai program tersebut menjadi bagian dari agenda Brinks membangun organisasi yang lebih modern, agile, dan responsif. Integrasi antara performance, learning, talent, employee management, dan digital workflow memberikan fondasi bagi fungsi HC untuk terus berkembang dari sekadar fungsi administratif menjadi strategic partner bagi bisnis.
Dengan pendekatan tersebut, investasi pada people dan organizational capabilities tidak hanya mendukung kebutuhan tenaga kerja saat ini, tetapi juga mempersiapkan organisasi menghadapi perubahan bisnis dan kebutuhan kompetensi di masa depan.
