Jakarta, TopBusiness – Nama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk atau Bank BJB tak hanya populer di wilayah Jabar dan Banten saja, namun sudah menasional. Kondisi ini lantaran kiprah perseroan ternyata tak hanya berada di Tanah Pasundan dan Parahyangan serta Bumi Jawara saja, namun sudah merambah ke pelosok provinsi di Indonesia.
Tercatat, hingga akhir tahun lalu, Bank BJB sudah ekspansif ke 14 provinsi, selain Jabar dan Banten juga ada di Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Bahkan eksistensi perseroan di sana pun tak hanya ‘numpang lewat’, tapi juga relative sukses dan terus bertumbuh. Hal ini tak lepas karena ditopang oleh keandalan sistem IT dari emiten dengan kode saham BJBR itu, sehingga ekspansi tersebut tetap melambung.
“Sebenarnya, kami ini bukan hanya sebagai Bank BPD lagi, kalau menurut kelasnya, kami sudah layak sebagai bank nasional. Memang banknya pemprov (Jabar dan Banten), tapi kami juga sudah turut membangun provinsi lain, membangun infrastruktur di provinsi lain. Ditambah lagi, bicara digitalisasi Bank BJB ini sudah kelasnya nasional,” tutur Direktur Utama BJB, Yuddy Renaldi dalam sesi wawancara penjurian TOP BUMD Awards 2021 yang dilakukan secara online, pada Jumat (11/6/2021).
Bank BJB sendiri menjadi salah satu finalis yang terpilih mengikuti proses penjurian TOP BUMD Awards 2021 dari ribuan BUMD yang tersebar di Indonesia. TOP BUMD Awards 2021 ini digelar oleh Majalah TopBusiness dengan menggandeng beberapa asosiasi dan institusi yang kompeten di bidangnya.
Di depan Dewan Juri, Yuddy mengatakan, kipah Bank BJB di luar Jabar dan Banten itu berupa kucuran pinjaman untuk proyek infrastruktur di daerah masing-masing melalui produk BJB kredit Indah (Infrastruktur Daerah). Beberapa daerah yang sudah dibiayai antara lain, Lampung, Bengkulu, Sulawesi Selatan, dan beberapa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bali.
“Kebetulan saya juga sebagai Sekjen Asbanda (Asosiasi Bank-bank Daerah), jadi saya katakana, ‘ayo bersinergi dari beberapa BPD yang ada’. Apalagi, di BPD lain mungkin DPK (Dana Pihak Ketiga)-nya tak besar, karena adanya pandemi covid ini membuat likuiditas terganggu. Sementara kebutuhan daerah masih-masing tinggi untuk bangun jalan, jembatan, dan infrastruktur lainnya. Dari pada bank lain masuk, ya lebih baik kita (BPD) bersinergi,” tutur Yuddy.
Meski begitu, dia juga mengakui tetap ada fator mitigasi risikonya, sehingga pembiayaan yang dilakukan tetap secara prudent. Antara lain, untuk yang tenor jangka panjang harus ada persertujuan dari DPRD-nya.
Sejauh ini, kata dia, untuk penyaluran kredit infrastruktur segmen komersial dilakukan dalam bentuk kredit modal kerja yang digunakan untuk mendukung proyek-proyek daerah. Di antaranya, PLTM Cikaengan (3×1,7 MW) di Kabupaten Garut, Jabar; proyek Overpass Tegal Gede, Kab Bekasi; Pasar Rakyat Awipari, Kota Tasikmalaya; dan RSUD Kota Tangsel Gedung 3, Kota Tangerang Selatan.
Adapun untuk segmen korporasi, penyaluran kredit infrastruktur daerah ini dilakukan dengan pola sindikasi maupun bilateral, terhadadp proyek-proyek strategis nasional. Seperti, Jalan tol Elevated, Jakarta-Cikampek Elevated; Light Rail Transit (LRT) Jakpro, Jakarta; Jalan tol Cipali, Cipali-Kertajati; jalan tol Kanci-Pejagan, Cirebon; PLTU 2×60 MW, Serang, Banten; Observasi dan Penampunagn Covid-19, Batam; pinjaman daerah Pemkot Bengkulu tahun pembiayaan 2020 lalu, dan banyak lagi.
Peran Bank BJB di luar Jabar dan Banten selain proyek infrstruktur juga turut memajukan kinerja BPR setempat. Seperti yang dilakukan di Denpasar, Bali. Di sana, ketika beberapa sektor di Bali terkontraksi dihantam pandemi Covid-19, ternyata performa cabang Bank BJB di Bali tetap tumbuh positif.
“Semula kami pikir terdampak dengan adanya Covid, tapi alhamdulillah di cabang Denpasar, Bali ini masih positif. Karena kami bekerja sama juga dengan beberapa BPR di sana, khususnya BPR Lestari kami biayai cukup signifikan. Dan ternyata, BPR Lestari ini juga bisa menjaga kondusifitas keuangan mereka, sehingga cabang kami masih positif,” ujar Sekjen Asbanda ini.
Tak hanya infrastruktur, kiprah BPD satu ini yang sudah setara bank nasional ini juga turut membiayai BUMN pangan sebagai upaya menjaga ketahanan pangan. Seperti terhadap Bulog dan PT RNI (Persero). Menurutnya, pembiayaan ke Bulog ini cukup signifikan. Bahkan, pihaknya sebagai kreditur ketiga terbesar kepada Bulog di bawah dua bank BUMN.
“Adapun terhadap RNI atau RNI Group ini, kita juga biayai sampai ke turunannya, yakni hingga ke petani-petani gula di Jawa Barat. Itu juga cukup signifikan,” katanya.
Lalu dengan BUMD Jabar, yakni Agro Jabar, pun digarap kerja sama ketahanan pangan. Termasuk di dalamnya pembiayaan terhadap petani milenial. Terlebih, diakui Yuddy, masalah ketahanan pangan ini memang sudah diminta oleh Gubernur Jabar, Ridwan Kamil sendiri. Apalagi memang, sektor pertanian salah satu yang mengalami pertumbuhan, selain peternakan, dan perikanan. “Meski begitu kita juga tetap melakukan mitigasi risikonya,” ulang dia.
Kinerja di Atas Industri
Kiprah yang hebat itu memang tak lepas dari performa keuangan yang menakjubkan. Kendati di tengah pandemi, justru kinerja bank yang baru berulang tahun ke-60 tahun itu malah mencatatkan pertumbuhan tinggi di setiap rasio dan indikator keuangannya dan sanggup menyalip performa industri perbankan nasional ataupun BPD.
Beberapa pos seperti asset, Dana Pihak Ketiga (DPK), kredit yang dikucurkan, pendapatan bunga, laju rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) tercatat lebih baik dari capaian industri. Untuk total asset mencapai Rp140,934 triliun per akhir 2020 lalu atau tumbuh 14,1% secara year on year (yoy). Angka ini tumbuh di atas industri perbankan (+7,18%) dan BPD (+6,46%).
Kemudian DPK, tumbuh 19,15% (yoy) menjadi Rp106,46 triliun, juga di atas industri perbankan (+11,11%), dan BPD (+10,96%). Lalu, untuk kredit tumbuh 9,1% menjadi Rp95,22 triliun atau di atas industri perbankan (-2,4%) dan kelompok BPD (+5,09%).
Adapun NPL yang terjaga di 1,4% atau turun 0,2%, di mana industri perbankan (3,06%), kelompok BPD (2,77%). Dengan posisi laba bersih yang terdongkrak 8% (yoy) menjadi Rp1,69 triliun, lebih besar dari industri perbankan (-33,08%) dan BPD (+5,64%).
“Sehingga eksposur bisnis Bank BJB ini relatif aman dari goncangan yang terjadi karena didominasi oleh kredit berbasis pendapatan tetap, government related project, serta korporasi dan komersial yang secara selektif,” ungkap Yuddy.
Untuk pertumbuhan kredit ditopang oleh kredit komersial & korporasi yang terkerek 22,9% (yoy) menjadi Rp16,26 triliun, lalu disusul KPR naik 9,4% menjadi Rp6,81 triliun, kredit UMKM terdongkrak 6,7% menjadi Rp6,14 triliun, dan kredit konsumer & ritel sebesar Rp59,895 triliun atau naik 6,4%.
Kehebatan Digitalisasi BJB
Pencapaian kinerja yang oke dari Bank BJB itu, memang perlu diakui, salah satunya karena ditopang oleh keandalan sistem IT yang mumpuni. Maka tak aneh, jika berdasar survey dari salah satu media perbankan tekenal nasional terhadap 10 besar kinerja mobile banking terbaik, Bank BJB berada di peringkat ke delapan. Keberhasilan ini memang tak lepas dari persiapan Bank BJB yang sudah dilakukan sebelum adanya pandemi.
“Jadi, bagaimana bank cepat beradaptasi di tengah tuntutan digitalisasi ini. Sebab, pandemi telah mengingatkan kita di saat mobilitas masyarakat terbatas, channel digital menjadi solusinya bagi bank untuk dapat melayani kebutuhan nasabahnya. Dan kini budaya digitalisasi merupakan kehidupan kita seharai-hari. Kami sudah merampungkan digitalisasi ini tepat sebelum pandemi terjadi, sehingga kini merasakan manfaat sangat signifikan,” katanya.
Disebutkan dia, penggunaan layanan digital memang meningkat sangat pesat dalam waktu tiga bulan saja atau selama kuartal I-2021 ini yakni pertumbuhannya mencapai 35,9% untuk pengguna bjb DIGI yakni dari 179.702 user menjadi 244.213. Dan terus tumbuh sampai dengan saat ini.
“Lalu, ekosistem bank yang pembayarannya menggunakan QRIS mercant BJB bahkan tumbuh pesat di angka 243% dalam kurun waktu tiga bulan saja. Dari 7.458 menjadi 25.621. Ini mendorong pertumbuhan fee bases income (FBI) sebesar 54,25% (yoy). Dengan pengembangan digitalisasi yang tepat, FBI pun bisa menjadi secondary back bone untuk pendapatan bank ke depannya,” tutur dia.
Menurut Yuddy, Bank BJB juga diuntungkan secara demografi baik di Jabar maupun di Banten. Apalagi memang, dari sisi milenialnya lebih dari 50%. “Itu kalau tiap hari kita genjot, misal dari mobile banking, penambahan akun baru dan transaki QRIS di merchant BJB, maka impact-nya luar biasa,” katanya dengan menambahkan, beberapa pusat perbelanjaan ITC di DKI Jakarta sudah mempercayakan menggunakan QRIS Bank BJB.
“Maka dari itu, kami ini bukan hanya Bank BPD lagi, kalau menurut kelasnya. Kami ini sudah bank nasional. Karena bicara digitalisasi kami sudah menasional. Dan kami yakin bisa menjadi lebih baik, tak lagi di posisi delapan dari sisi digitalisasi, karena kami memiliki ekosistemnya,” kembali Yuddy menandaskan.
FOTO: TopBusiness
