Jakarta, TopBusiness – Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan industri beton, jasa konstruksi, dan bidang usaha lain yang terkait, PT Wijaya Karya Beton Tbk (Wika Beton) terus melakukan perluasan pangsa pasar. Tidak hanya di wilayah Indonesia, Wika Beton juga sudah menjajaki bisnis di negara Asia Tenggara. Hal ini juga Nampak sejalan dengan visi yang diusung perusahaan yang merupakan anak usaha dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. itu.
Sebagaimana diketahui, Wika Beton memiliki visi Menjadi Perusahaan Terkemuka dalam Bidang Engineering, Production, Installation (EPI) Industri Beton di Asia Tenggara.
“Visi kami ini untuk menjadi industri beton di Asia Tenggara, Alhamdulillah sudah tercapai. Jadi, kami di awal tahun ini sudah memperoleh kontrak di Filipina. Jadi, memang ini baru permulaan sekali, kita menjejakkan kaki di luar negeri dan harapan kami ke depan dengan masuknya kami di Filipina akan menjadi penetrasi pasar di sana, kemudian juga di negara-negara Asia Tenggara lainnya,” kata Ahmad Fadli Kertajaya, Direktur Keuangan, Human Capital, dan Manajemen Risiko PT Wijaya Karya Beton Tbk. dalam sesi penjurian TOP GRC Awards 2022 yang digelar Majalah Top Business secara virtual (30/6/2022).
Dalam paparannya, Ahmad Fadli Kertajaya juga menegaskan bahwasanya sampai dengan (tahun) 2020 kemarin, market share Wika Beton khusus di produk precast itu sudah mencapai 40-45% di Indonesia. Dengan area jangkauan hampir di seluruh Indonesia, Wika Beton sudah memiliki 14 pabrik dan 1 mobile plant, dan 6 sales area.
Adapun untuk strategis bisnis, Wika Beton mengusung konsep ‘One Stop Solution in Concrete Industry’. “Jadi, semua proyek yang ada hubungannya dengan produk beton itu semua ada di PT Wijaya Karya Beton. Jadi, pemilik proyek itu, kalau ada proyek itu tinggal ‘oh Wika Beton’, udah bisa semua. Itulah istilahnya,” tandas Ahmad Fadli.
Penerapan GRC
Nah, sejalan dengan aktivitas bisnisnya yang kian berkembang, Wika Beton juga tergolong apik dalam menerapkan prinsip GRC (Governance, Risk, and Compliance). Bagaimana tidak, selain terlihat dari struktur organisasinya yang di dalamnya telah terdapat bagan-bagan yang sangat berhubungan dengan GRC, hal itu juga terlihat dari apa aspek GRC yang sudah dijalankan, di mana telah mendapat assessment dengan skor sangat baik.
Misalnya dalam penerapan manajemen risiko. Sebagaimana dikatakan Ahmad Fadli, bahwa prinsipnya, kerangka kerja, dan prosesnya ini sudah dilalui Wika Beton. “Semua tahap-tahapan ini yang harus kita lakukan, baik dari itu mulai mengidentifikasi (risiko), kemudian melakukan evaluasi, mitigasi, sampai dengan memetakan risiko yang telah kita monitor,” katanya.
Untuk skor Risk Maturity Level-nya, berdasarkan assessment yang dilakukan, dikatakan bahwa sampai dengan tahun 2021 skor Cross Assessment WIKA 2021 itu ada di posisi 4,25 atau dengan predikat rasio terukur, terkelola, berlaku di seluruh perusahaan.
Adapun dalam penerapan konsep Three Line of Defense, Ahmad Fadli menegaskan bahwasanya apa yang dilakukan Wika Beton sebenarnya in line juga dengan yang ada di induk (perusahaan) yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.
Selanjutnya untuk aspek kepatuhan, Wika Beton sudah memiliki apa yang disebutnya sebagai Mekanisme Implementasi Kepatuhan. Ada dua kategori keberhasilan yang dicanangkan Wika Beton, dalam pelaksanaan aspek kepatuhan.
“Untuk keberhasilan (penerapan kepatuhan) itu, kategorinya adalah kita tidak terdapat teguran dari regulator, (serta) tidak terdapat catatan dalam laporan audit kepatuhan. Nah, hasilnya itu bisa kita lihat di tahun 2021 itu skor kita keseluruhan itu 88,959 dengan posisi sangat baik,” paparnya.
Masih berkaitaan dengan aspek kepatuhan, Ahmad Fadli menegaskan bahwasanya dari sisi kebijakan kebijakan operasi, gratifikasi, etika perusahaan dan hal lain-lainnya, Wika Beton sudah punya semua, dalam kaitannya dengan pelaksanaan secara GRC.
Sementara itu, dalam praktek GCG terutama penerapan Whistleblowing System, Wika Beton juga juga sudah memiliki prosedurnya. Adapun mekanisme pelaporan pelanggaran itu sudah ada di Code of Conduct. Untuk memperkecil terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, dalam pengadaan barang dan jasa, Wika Beton juga sudah menerapkan apa yang disebutnya sebagai e-procurement dan i-procurement.
“Jadi, kita semua sudah ada sistem. Semua dari proses pengadaan itu, kita semua by system, baik vendornya mendaftar, vendornya mengajukan penawaran, (hingga) negosiasi, itu semua by system. Sehingga untuk memperkeciil hal-hal yang tidak kita inginkan semua kita lakukan by system,” jelas Ahmad Fadli.
Senada dengan apiknya pelaksanaan aspek manajemen risiko dan kepatuhan, secara umum dalam hal tata kelola perusahaan, Wika Beton juga masuk kategori sangat baik. Hal itu terlihat dari skor GCG yang diraih perusahaan.
“Skor (GCG) kami di tahun 2019 sudah mencapai skor di 88,936 ini eksternal dari BPKP, keterangannya sangat baik. Kemudian di 2020, karena ini self assessment itu per dua tahun, masih sama dengan yang di tahun 2019. Di 2021, Alhamdulillah naik sedikit 88,959, ini juga dilakukan oleh BPKP,” ungkapnya.
Digitalisasi
Sudah bukan rahasia lagi, bahwasanya pandemi Covid-19 telah mempengaruhi kinerja bisnis banyak perusahaan, termasuk Wika Beton. Dalam menyiasati dampak pandemi yang dialami perusahaan, Wika Beton mengusung strategi bisnis yang dinamakan Wika Beton Digitalization.
“Jadi, di sini pola pikir dan budaya kerja itu mindset kita sudah kita bentuk untuk kerja semua itu berbasis digital dalam setiap aktivitas Wika Beton. Kemudian untuk Perencanaan Sumber Daya Perusahaan, (dengan melakukan) Integrasi bisnis proses dalam Enterprise Resource Planning (ERP) untuk kecepatan pengambilan kecepatan keputusan dalam merespon dinamika yang terjadi di pasar,” ujar Ahmad Fadli.
Tidak hanya itu, digitalisasi juga dilakukan Wika Beton dalam Proses Produksi. Seperti dikatakan Ahmad Fadli, semua produksi di pabrik-pabrik itu sudah menggunakan IT. ”Jadi, semua efisiensi, semua penggunaan sumber daya, itu kita monitor semua by system di gadget,” tandasnya.
Dalam paparan yang disajikan dalam slide presentasi, Wika Beton juga mengungkap hal terkait pemanfaatkan Teknologi Informasi dalam mendukung implementasi GRC. Dalam hal ini disebutkan bahwa WIKA Beton telah memanfaatkan Teknologi untuk mendukung Implementasi GRC dengan tujuan membantu perusahaan mengelola risiko, mengantisipasi ketidakpastian dan bertindak atas nama Integritas, bentuk dukungan atas program GRC ini WIKA Beton telah mengimplementasikan Aplikasi WTON Audit dan Aplikasi Manajemen Risiko.
Penulis: Fauzi
