Jakarta, TopBusiness – Praktek Governance, Risk, and Compliance (GRC) di PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (IDX: BJBR) atau Bank BJB bukan hal baru. Sebagai bank daerah terbesar di Indonesia apalagi berstatus Tbk, BJB konsisten dalam menjalankan praktek GRC.
Bahkan boleh dibilang perangkat GRC yang ada di “bank nasional” satu ini –karena tersebar di 14 provinsi– boleh dibilang sudah lengkap. Mengingat, GRC sendiri sejatinya pesan penting dari Sang Gubernur Jabar selaku pemegang saham untuk konsisten diterapkan. Terlebih, Bank BJB sudah masuk ke dalam bank sistemik karena adanya konglomerasi keuangan di dalamnya, sehingga praktek GRC menjadi keniscayaan.
Komitmen ini terungkap dalam proses penjurian TOP GRC Awards 2023 yang digelar Majalah TopBusiness secara online, belum lama ini. Dalam penjurian itu, jajaran Dewan Komisaris dan Direksi BJB membeberkan kondisi bisnis perusahaan yang positif dan implemetasi GRC yang sudah mumpuni ditopang perangkat GRC yang komplit.
Hadir dari Bank BJB sangat lengkap yaitu Komisaris Utama Independen, Farid Rahman; Komisaris Independen, Fahlino F. Sjuib; Komisaris Independen, Diding Sakri; Direktur Utama, Yuddy Renaldi; Direktur Kepatuhan, Cecep Trisna; Direktur Komersial dan UMKM, Nancy Adistyasari; Direktur Information Technology, Treasury dan International Banking, Rio Lanasier; Pemimpin Divisi Kepatuhan & APU PPT, Detya Suryadani; Pemimpin Divisi Pengendalian Keuangan, Muhammad Asadi Budiman; Pemimpin Divisi Manajemen Risiko, Asep Dani Fadilah; Pemimpin Satuan Kerja Audit Internal, Joko Hartono Kalisman; Pemimpin Divisi Information Technology, Anthonius Satriyo Wibowo; dan Wakil Pemimpin Divisi Digital Banking, Johanes Parulian Tamba.
Menurut Komisaris Utama Bank BJB, Farid Rahman, Bank BJB konsisten mengikuti ajang TOP GRC Awards ini bukan gagah-gagahan atau pamer dan lainnya. Namun jika hasilnya itu bagus dan positif tentu sangat membanggakan.
“Akan tetapi esensinya adalah, kami ingin benar-benar memningkatkan GRC di Bank BJB ini. Apalagi memang pesan Kang Emil (Ridwan Kamil-Gunernur Jabar-Red) sebagai pemegang saham saat awal-awal kami dulu dilantik, minta untuk dikuatkan GRC-nya,” ujar Farid.
Tentu saja untuk bank sebesar GRC dan apalagi statusnya BPD, GRC menjadi penting. Karena, lanjut Farid, BJB ini unik berbeda dengan bank BUMN lainnya. Karena pemegang sahamnya variatif, makanya GRC harus dijaga.
Senada dengan itu disampaikan oleh Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi. Kata Sang Dirut, “GRC ini sangat penting bagi kami dari waktu ke waktu, karena ini lembaga kepercayaan, maka trust sangat penting bagi kami. Untuk itu, dari sisi kepatuhan pun kami terus lebih baik lagi.”
“Apalagi saat ini kinerja bisnis dengan indikator finansial kami juga meningkat sangat signifikan. Di tahun 2022 lalu, kami menghasilkan pencapaian laba yang tebesar sepanjang sejarah BJB. Dan di tahun 2023 ini sekalipun ada kenaikan suku bunga kami yakin masih tetap positif karena kami sudah punya tools untuk mengatasi risiko ini,” ujar Yuddy lagi.
Untuk kinerja keuangan per 31 Desember 2023 lalu, total asset BJB mencapai Rp181,2 triliun naik 14,5% secara year on year (yoy), dengan total Dana Pihak Ketiga di posisi Rp131,1 triliun meningkat 7,8%, total kredit mencapai Rp115,8 triliun atau terkerek 13,2%, sehingga laba bersihnya mencapai Rp2,84 triliun atau melonjak 9,6% secara tahunan.
Lebih lanjut dijelaskannya, untuk memperkuat kinerja, kini Bank BJB juga sedang menggagas Kelompok Usaha Bank (KUB) sesuai anjuran OJK. Untuk itu, pihaknya akan mengakuisisi beberapa bank yang akan masuk ke KUB. Satu yang sudah pasti adalah Bank Bengkulu. “Kami sedang menginsiasi KUB untuk konsolidasi BPD yang modal intinya kurang dari Rp3 triliun. Menurut OJK mereka harus genjot kepemilikan modal. Makanya BJB masuk, ini strategi BJB untuk tumbuh anorganik,” katanya.
Saat ini, untuk KUB dengan Bank Bengkulu, di tahap pertama pihaknya sudah setorkan modal sebesar Rp100 miliar dan pihaknya siap akan suntik lagi sebesar Rp150 miliar untuk tahap selanjutnya. “Strategi ini akan menjadi kepanjangan tangan di daerah yang kami tak punya kantor cabang. Jadi tumbuh anorganik ini sangat penting. Dan ternyata saat ini banyak BPD yang mau meng-KUB dengan BJB. Saat ini baru Bank Bengkulu yang menjadi keluarga besar Bank BJB,” tutur Yuddy.
Implementasi GRC
Dengan semakin kompleksnya bisnis perbankan BJB, maka GRC memang menjadi keniscayaan. Dijelaskan Direktur Kepatuhan BJB, Cecep Trisna, beberapa indikator dalam GRC juga cukup kuat. Untuk tingkat penilaian kesehatan bank (TKB) berada di level 2 hasil assessor OJK, lalu GCG (2), Profil Risiko (2), Rentabilitas (2), dan Permodalan (2), semua hasil assessor OJK.
Lalu skor ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) hasil penilaian IICD tahun 2022 sebesar 87,09 (Baik). Lalu untuk penilaian Corporate Governance Perception Index (CGPI) hasil assessor IICG tahun 2022 sebesar 85,60 (Most Trsuted).
Selanjutnya untuk penilaian FIR on ML/TF yang merupakan indeks penilaian integritas Pihak Pelapor terkait kinerja pelaporan kepada PPATK dalam rangka penerapan program Anti-Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT) berada di angka 7,66 (Baik) di tahun 2022 lalu dari sebelumnya 8,05.
“Penurunan ini diakibatkan oleh perubahan persentase dimensi penilaian FIR on ML/TF yang signfikan pada dimensi 3 kepatuhan dan kulitas pelaporan APU PPT dari 33% menjadi 60%,” ujar Cecep.
Adapun untuk pencapaian kepatuhan, Bank BJB untuk komitmen regulator sudah selesai yakni 100%. Dengan profil ririko kepatuhan OJK berada di Komposit 2 serat didukung adanya ISO 37301: 2021 yakni Sistem Manajemen Kepatuhan dan ISO 37001:2016 yaitu SIstem Manajemen Anti Penyuapan.
“Dan baru-baru ini, berdasar Surat OJK Nomor SR-45/KR.02/2022 tanggal 11 Oktober 2022, bahwa Bank BJB ditetapkan sebagai bank sistemik oleh OJK,’” ungkap dia.
Kematangan GRC di Ban BJB juga dibuktikan dengan lengkapnya organ penunjang GRC. Baik yang berada di bawah Dewan Komisaris maupun jajaran Direksi. Tercatat ada 15 organ seperti Komite Kebijakan Perkreditan, Komite Manajemen Risiko, Komite Manajemen Risiko Terintegrasi, Komite Pengarah Teknologi Informasi, Komite Risiko Permodalan, Assets and Liabilities Committee, Komite Nominasi dan Remunerasi, Komite Pemantau Risiko, Komite Audit, Komite Tata Kelola Terintegrasi, Divisi Kepatuhan dan APU PPT, Divisi Manajemen Risiko, Satuan Kerja Audit Internal, Divisi Kebijakan dan Prosedur, serta Divisi Corporate Secretary.

Untuk mewujudkan GRC yang terintegrasi itu, Banj BJB juga sudah menerapkan Sistem Aplikasi GRC dan Bisnis. Dan system IT ini, banyak aplikasi yang dikembangkan untuk menopang implementasi GRC tersebut, antara lain, FDS (Fraud Detection System), yaitu Aplikasi untuk mendeteksi pola transaksi mencurigakan kemudian memberikan alert kepada user untuk ditinjau dan ditindaklanjuti.
Lalu ada AMOLA yaitu (Aplikasi attau perangkat lunak yang dirancang untuk memantau penggunaan jasa dan transaski yang patut diduga terkait APU PPT. bjb Whistle Blowing System yaitu Aplikasi pelaporan adanya tindakan ketidakpatuhan, yang menjamin kerahasiaan pelapornya. Dan aplikasi GRC lain sebagainya.
“Dan selama tahun 2022 terdapat 60 Laporan dengan rata-rata tanggapan per hari sebanyak 4 laporan,” katanya. “Termasuk juga kami sudah menerapkan standar ISO yaitu ISO 37001: 2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan, ISO 37301: 2021 Sistem Manajemen Kepatuhan, ISO 20000: 2018 Sistem Manajemen Layanan Teknologi Informasi, ISO 27000: 2013 Sistem Manajemen Keamanan Informasi, dan ISO 9001: 2015 Trade Processing Service for Export & Import.
Dan yang terkahir, dalam implementasi GRC ini, Bank BJB ini sudah mengatur dan menerapkan terkait GRC Terintegrasi dan GRC Konglomerasi Keuangan, yakni BJB sudah mengatur dari mulai PSP (pemegang Saham Pengendali) hingga anak usaha dan perusahaan terelasi.
“Saat ini sebagai bentuk peningkatan kualitas sistem pengendalian internal Bank melalui penguatan GRC, Bank BJB sedang melakukan pengembangan melalui penyusunan framework GRC dan implementasi Integrated GRC berbasis digital,” pungkas Cecep.
