TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Inovatif, BPR Cianjur Kembangkan Kredit Mapay Lapak Plus yang Jadi Program Unggulan Pemerintah Kabupaten

Busthomi
15 March 2024 | 11:50
rubrik: BUMD, Event
Inovatif, BPR Cianjur Kembangkan Kredit Mapay Lapak Plus yang Jadi Program Unggulan Pemerintah Kabupaten

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – PT BPR Cianjur Jabar milik Kabupaten Cianjur, Jawa Barat sepanjang tahun 2023 lalu masih mampu mencatatkan kinerja beberapa pos keuangan. Hal ini tentu sangat positif mengingat banyak beberapa tantangan yang dihadapi. Namun dengan disokong tata kelola dan sederet inovasi yang dilakukan BPR Cianjur Jabar pun berhasil mempertahankan kinerja dengan masih berada di predikat “Sehat”.

Demikian seperti terungkap saat proses penjurian TOP BUMD Awards 2024 yang digelar Majalah TopBusiness secara daring pada Kamis (7/3/2024) lalu. Dalam proses penjurian itu, Deddi Herdadi selaku Direktur Utama BPR Cianjur menjabarkan keberhasilan Perusahaan yang dipimpinnya selama setahun belakangan ini. Dia didampingi Kepala Divisi perencanaan TI, Dimas Setyadi, Kepala Divisi Kredit dan Dana, Iman Rahmat Taufik, Kepala Divisi SDM-Kepatuhan dan Manajemen Risiko, Yuniar Agustiani, serta Kadiv Umum dan Akunting, Etty Dewati.

BPR Cianjur yang memiliki proporsi usaha 97% mengincar laba dan 3% untuk layanan publik atau sosial itu terlihat memiliki rasio perbankan yang variatif. Di satu sisi, rasio kecukupan modal (CAR) BPR Cianjur positif dengan rasio cash ratio di 20,99%, LDR yang juga bagus di angka 89,65%, KAP juga di 9,81%, RoA dan RoE masing-masing baik di di 0,82% dan 2,16%.

Namun di pos lainnya cukup menantang seperti NPL gross yang tinggi di 12,85%, atau net 3,14%, plus beban juga cukup tinggi ditandai dengan BOPO di 97,02%. Meski begitu, peringkat komposit pebankan berada di level 2 atau masih di status “Sehat.”

“Sesuai dengan POJK Nomor 3/POJK.03/2022 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkereditan Rakyat dan Bank Perekonomian Rakyat, penilaian Tingkat Kesehatan bank dilakukan terhadap 4 faktor yakni Profil Risiko, Tata Kelola, Rentabilitas, dan Permodalan. Secara keseluruhan pada tahun 2023 itu, Tingkat Kesehatan Bank Perseroan pada peringkat komposit 2  dengan nilai 2,00 atau sehat,” terang dia di depan dewan juri.

Untuk Profil Risiko, kata dia, peringkat Risiko Perseroan untuk posisi Desember 2023 berada pada peringkat Rendah (peringkat 2) serta memiliki tren stabil. Peringkat Rendah mencerminkan bahwa BPR Cianjur Jabar masih tergolong baik dan mampu mengelola risiko namun masih terdapat kelemahan-kelemahan dalam skala kecil (minor) dan tidak signifikan yang dapat diatasi oleh tindakan mitigasi risiko secara rutin.

Lalu, untuk Tata Kelola, penilaian pelaksanaan Tata Kelola berada pada peringkat baik dengan nilai komposit 2,27. Akan tetapi mengalami peningkatan nilai dari  tahun sebelumnya di angka 1,91. Hal itu disebabkan di antaranya komposisi Direksi hanya diisi oleh 1 (satu) orang Direksi dan terdapat kekosongan pada posisi Direktur yang membawakan fungsi kepatuhan.

BACA JUGA:   Danantara Garap 26 Proyek Hilirisasi senilai Rp 225 Triliun

“Perseroan telah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik  tercermin dari terdapatnya pemisahan fungsi dan tanggung jawab, terdapat kebijakan serta pedoman dalam pelaksanaan kegiatan operasional serta transparansi laporan keuangan, kendati masih terdapat kelemahan dalam pelaksanaannya,” katanya.

Selanjutnya di aspek Rentabilitas ini, untuk Rentabilitas Perseroan secara keseluruhan pada peringkat 4 rasio ROA tercapai 0,82% (Peringkat 4/Kurang Sehat), BOPO tercapai 97,02% (Peringkat 4/Kurang Sehat), sedangkan NIM tercapai 15,80% (Peringkat 1/Sangat Sehat).

“Hal tersebut dikarenakan terjadi penurunan laba dari tahun 2022 sebesar Rp1,23 miliar menjadi Rp734 juta pada 2023. Ini disebabkan meningkatnya beban PPAP Kredit sebesar Rp2,97 miliar (580%) dari tahun sebelumnya Rp512 juta. Kendati terjadi peningkatan pendapatan bunga sebesar Rp6,83 miliar (32,09%) menjadi Rp27,54 miliar, sehingga terjadi peningkatan pada NIM menjadi 15,80%. Dan laba kotor Perseroan bersumber dari core earning dan non core earning masing-masing 73,39% dan 26,61%,” bebernya.

Dan terakhir, aspek Permodalan. Di aspek ini, posisi Perseroan pada Peringkat 1 (sangat sehat) tercermin dari rasio KPPM tercapai sebesar 30,45% (peringkat 1/sangat sehat) akan tetapi menurun tipis sebesar 0,53% dari 30,98% di 2022. Dan Rasio Modal Inti terhadap Aset Produktif Bermasalah tercapai sebesar 775,96% (peringkat 1/sangat sehat).

“Ini menandakan bahwa Perseroan memiliki kualitas dan kecukupan permodalan yang sangat kuat dan mampu mengantisipasi kemungkinan risiko-risiko yang muncul,” tandasnya.

Secara kinerja, sejatinya untuk performa keuangan masih positif ditandai dengan raihan asset yang meningkat 7,16% di angka Rp164,338 miliar. Dengan kredit yang disalurkan sebanyak Rp139,414 miliar yang juga meningkat, dengan produk tabungan di angka Rp65,941 miliar dan deposito sebesar Rp49,365 miliar. Meski NPL-nya masih tinggi di angka 12,85%.

“Jadi, kinerja perseroan tahun 2023 ini mengalami peningkatan pada indikator utama keuangan dibandingkan tahun 2022. Perseroan mencatatkan laba positif sebesar Rp734 juta pada bulan Desember, kendati pada bulan April (2023) Perseroan sempat mencatakan rugi tertinggi sebesar Rp1,47 miliar. Dengan indikator utamanya tercapai rata-rata 90%-an,” katanya.

Untuk pertumbuhan asset ini disumbang oleh peningkatan kredit yang diberikan meningkat sebesar 13,82% atau Rp16,922 miliar dari tahun 2022 di angka Rp122,49 miliar menjadi Rp139,41 miliar atau tercapai 99,18%.

BACA JUGA:   Ada Kajian Rona Awal Lingkungan untuk Kelancaran Program CSR Insani Baraperkasa

Lalu, sumber dana peningkatan aset berasal dari Dana Pihak Ketiga Tabungan meningkat sebesar 1,39% menjadi Rp65,94 miliar pada 2023 tercapai 90,40%, Deposito meningkat sebesar 11,44% menjadi Rp49,36 miliar tercapai 101,47%. Dan dana pihak kedua SDBL meningkat 26,13% menjadi Rp7 miliar tercapai 100%.

“Dengan modal BPR Cianjur meningkat Rp2,5 miliar bersumber dari setoran modal dari Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur,” ujar dia.

Adapun terkait perolahan laba yang menurun Rp521 juta dari sebelumnya Rp1,25 miliar menjadi Rp734 juta itu, Deddi menegaskan, hal tersebut lantaran terdapat peningkatan beban Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) kredit sebagai dampak berakhirnya stimulus covid-19.

“Di antaranya harus dibentuknya PPAP umum 0,5%, kendati pada pos pendapatan Perseroan mencatatkan peningkatan signifikan sebesar Rp5,62 miliar (22,02%) yang disumbang peningkatan dari pendapatan bunga kredit yang diberikan sebesar Rp6,83 miliar (32,98%),” ujar dia lagi.

Penguatan Tata Kelola

Lebih jauh ditegaskan Deddi, untuk pelaksaan kinerja bisnis pada tahun 2023 lalu, BPR Cianjur lebih fokus pada perbaikan serta penguatan tata kelola, risiko, kepatuhan dan bisnis. Peseroan mencatatkan kerugian tertinggi pada April 2023 sebesar Rp1,47 miliar, dampak dari berakhirnya kebijakan stimulus covid-19 di antaranya perseroan harus membentuk PPAP umum 0,5% tadi.

Ini sebesar Rp543 juta serta debitur-debitur yang diberikan restrukturisasi tidak mampu bertahan meningkatkan kredit bermasalah serta membentuk PPAP Khusus.

Dalam hal ini, BPR Cianjur terus melakukan kebijakan tata kelola Perusahaan yang baik (GCG). Dan dalam kebijakan ini, BPR Cianjur mengedepankan pengendalian internal yang memadai yang baik, bahkan sudah memiliki Three Lines of Defense, juga pelaksanaan kegiatan operasional berdasarkan standar prosedur operasional sesuai undang-undang yang telah ada pengkinian, dan pemisahan fungsi dan tanggung jawab serta transpansi terhadap seluruh stakeholders.

“Jadi untuk GCG BPR Cianjur sudah di level ‘Baik’ di nilai 2,27. Dan untuk mewujdukan GCG, kami telah memiliki budaya Perusahaan yaitu “Get Trust” yang menjadi salah satu faktor penilaian Key Performance Indicator (KPI) kami. Dengan penerapan audit intern dilaksanakan berbasis risiko,” katanya.

Apalagi memang, BPR Cianjur ini juga dihadapi tantangan yang cukup kuat, sehingga implementasi GCG menjadi penting. Seperti persaingan kredit KUR dari Bank Umum dengan suku bunga rendah menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyaluran kredit pada sektor UMKM. Sehingga Direksi membuat kebijakan penyaluran kredit pada sektor konsumtif melalui Kredit Aparatur Desa dan Kredit Kreta Ekspres menjadi pondasi dan core earning utama bagi Perseroan untuk mencatatkan laba.

BACA JUGA:   Temuan Juri TOP BUMD Awards 2022: BUMD Tahan Hadapi Dampak Pandemi

“Dengan tetap mengedepankan penyaluran kredit berdasar prinsip kehati-hatian dan asas perbankan yang sehat dan risiko-risiko yang muncul telah termitigasi,” ujar dia. DItambahkannya, BPR Cianjur sendiri merupakan market leader untuk kalangan BPR yang berkantor pusat di Kabupaten Cianjur dengan rata-rata penguasaan pasar sebesar 47,10%.

Inovasi

Selain penguatan tata kelola, BPR Cianjur juga memiliki inovasi produk yaitu produk kredit Mapay Lapak Plus (Kelapa Plus). Kredit ini untuk sektor UMKM yang menjadi salah satu program kredit pilihan bagi masyarakat Cianjur. Karena dirasakan manfaatnya secara langsung di antaranya peningkatan usaha melalui pinjaman itu. Juga ada produk Tabungan yang dilakukan secara pick up service real time. Ini untuk tumbuhnya kesadaran mengelola keuangan dengan baik, dimana BPR Cianjur memberikan kemudahan sekaligus solusi bagi masyarakat.

“Sehingga kami berharap pertumbuhan ekonomi daerah meningkat dengan adanya program Kredit Mapay Lapak Plus dan Kegiatan Pick Up Service. Dengan begitu keuangan masyarakat terutama di Pasar dapat terkelola dengan Baik dan ikut mendukung Percepatan Akses Keuangan Daerah,” katanya.

“Jadi dengan Kredit Mapay Lapak Plus ini BPR Cianjur menjadi bagian dari Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di Kabupaten Cianjur. Karena ini sebagai program Kredit Melawan Rentenir. Bahkan produk Kredit Mapay Lapak Plus ini sebagai kredit/pembiayaan melawan rentenir yang menjadi program unggulan TPAKD di Kabupaten Cianjur,” terang dia.

Penyaluran Kredit Mapay Lapak Plus ini, jelas Deddi, berupa kredit yang diberikan kepada Debitur yang telah menjadi nasabah tabungan dan telah terdapat mutasi rekening minimal satu bulan dengan minimal saldo tabungan senilai setoran kredit perbulan dengan sasaran para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Dan untuk penyalurannya selama 2023 lalu sudah sebesar Rp486 Juta dengan jumlah debitur 111.

Demikian sederet kinerja dan kontribusi BPR Cianjur positif terhadap pembangunan di Kabupaten Cianjur yang patut mendapat apresiasi. Termasuk untuk setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya yang terus disalurkan ke Pemda. “Bahkan, BPR Cianjur merupakan satu-satunya BUMD di Kabupaten Cianjur yang memberikan dividen pada tahun 2023 sebesar Rp304 juta,” pungkas dia.

Tags: BPR CIanjurTOP BUMD Awards 2024
Previous Post

Mengusung Smartfren Community, Smartfren Kandidat Raih Penghargaan TOP CSR Awards 2024

Next Post

Integrasikan CSR dan ISF, Ini 5 Program CSR Unggulan Wakaf Salman

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR