Jakarta, TopBusiness – Dihadiri dr. Kinik Darsono, M.Pd.Ked selaku Direktur, RSUD dr. Soeratno Gemolong Kabupaten Sragen telah melewati sesi penjurian TOP BUMD Awards 2024 yang digelar secara virtual oleh Majalah TopBusiness, Senin (5/2/2024) lalu.
Sebagai BUMD yang bergerak di layanan kesehatan dr. Kinik menegaskan bahwa rumah sakit itu satu entitas yang agak berbeda dibandingkan dengan BUMD lain. Hal itu menurutnya, lantaran di rumah sakit itu ada dua tata kelola yang utama, yaitu tata kelola manajemen rumah sakit, artinya yang akan diukur adalah kinerja bisnisnya. Kemudian ada tata kelola klinis, yaitu tentu saja yang diukur wujudnya adalah layanan dari rumah sakit.
“Dua hal ini ada sesuatu yang berbeda, kalau kinerja bisnis tentu saja ukurannya adalah profitnya, karena profit ini akan menjaga sustainability dari sebuah rumah sakit, karena prinsipnya adalah rumus pertama bisnis harus untung, kalau nggak untung neggak mungkin bisa jalan. Sementara layanan itu adalah orientasinya adalah benefit (kebermanfaatan). Tugas kita sebagai pimpinan rumah sakit itu adalah membuat ini menjadi seimbang antara benefit dan profit. Cuma karena kita RSUD, orientasi utama kita adalah benefit kepada masyarakat. Seperti yang terpampang dalam visi misi, profil bisnis kita,” ujar dr. Kinik.
“Kalau kita lihat visi misi kita tentu saja di sini adalah melaksanakan tugas yang diberikan dari pusat (Kemenkes) yang diterjemahkan di Pemda berupa memenuhi semua tugas untuk layanan kesehatan sehingga tercapai kesehatan yang paripurna,” sambungnya.
Strategi dan Kinerja Bisnis
Seperti rumash sakit pada umumnya, secara umum RSUD dr. Soeratno Gemolong memiliki aktivitas usaha antara lain pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. “Dan ini adalah pelayanan kesehatan perorangan bukan komunitas secara paripurna,” tegas dr. Kinik.
Bicara strategi bisnis, yang menjadi fokus RSUD dr. Soeratno Gemolong adalah bagaimana rumah sakit bisa meningkatkan mutu (dalam) dua hal, satu adalah kebermanfaatan pada masyarakat secara umum, tanpa perlu terlalu banyak melihat ini untung atau rugi, tetapi juga harus menjaga di satu sisi bisnis itu harus tetap untung agar tetap berinvestasi dan terus berkembang.
“Kenapa begitu karena status BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) di RSUD dr. Soeratno Gemolong itu sudah statusnya BLUD penuh, jadi sama sekali tidak mendapatkan subsidi dari Pemda, sehingga semuanya harus mencari uang sendiri, kemudian menerapkannya dan harus bisa tetap investasi. Nah, ini memang agak riskan, kalau manajemen risiko harus benar-benar diperhatikan apalagi ketika kita lihat rumah sakit itu tidak hanya padat pikiran, padat kegiatan, tetapi juga padat dengan aturan. Nah, aturan ini yang biasanya justru akan bisa memporakporandakan semua kegiatan bisnis kita,” jelas dr. Kinik.
Pada kesempatan ini, dr. Kinik mengungkap hal berkaitan dengan aturan yang berimbas pada layanan rumah sakit yang dikelolanya, yakni terkait dengan diberlakukannya KRIS (Kelas Rawat Inap Standar), yang berdampak pada berkurangnya jumlah tempat tidur di RSUD dr. Soeratno Gemolong.
“Konsekuensinya adalah tempat tidur kami berkurang sepertiga dari 168 menjadi 110 tempat tidur, padahal secara umum rumah sakit hasil itu bisa dihitung dari berapa jumlah tempat tidur, tetapi tetap harus bertahan. Di samping itu ada undang-undang yang menyangkut rumah sakit, di mana kelas rumah sakit kalau dulu tipe rumah sakit berdasarkan jumlah tempat tidur, mulai tahun depan itu akan bergeser menjadi ke kedalaman pelayanan, artinya pelayanan spesialis atau subspesialis atau tidak,” tegasnya.
Nah, hebatnya meski mengalami kekurangan jumlah tempat tidur, dari sisi kinerja bisnis RSUD dr. Soeratno Gemolong tetap berhasil mencapai target.
”Kinerja tahun 2022 ini dari target Rp25,1 miliar kita bisa (mencapai) Rp28,58 miliar. Kemudian kinerja tahun 2023 targetnya Rp29 miliar, kami mencapai Rp39,6 miliar. Pelayanan sosial kami juga meningkat dari Rp11 juta menjadi Rp34 juta. Jadi, kalau kita lihat target realisasi ini kita selalu di atas 100% dari yang ditargetkan,” ungkapnya.
Seperti dikatakan dr. Kinik, ketika terjadi penurunan tempat jumlah tempat tidur, pada tahun 2023 ada usulan untuk menurunkan target, karena dikhawatirkan akan terjadi penurunan, tetapi hal itu tidak dilakukan, hingga akhirnya RSUD dr. Soeratno Gemolong mampu mencapai target kinerja 136,5%.
“Jadi, (yang menjadi) catatan (pencapaian target) 136,5% ini padahal terdapat penurunan tempat tidur sepertiga. Biasanya secara normal itu jumlah tempat tidur itu akan sangat mempengaruhi pendapatan rumah sakit. Ini Alhamdulillah walaupun menurun tempat tidurnya tetapi kami bisa naik pendapatannya melampaui target. Sehingga kalau kemarin misalnya tidak terjadi pengurangan tempat tidur mungkin pendapatan kami bisa hampir 200% dari target,” ujar dr. Kinik.
Layanan dan Inovasi
Tidak hanya dari kinerja keuangan, dari sisi pelayanan RSUD dr. Soeratno Gemolong juga mengalami peningkatan terus menerus, baik dari layanan dari rawat jalan, rawat inap, ataupun gawat darurat.
Dr. Kinik tidak memungkiri bahwa seiring dengan kepercayaan masyarakat yang tinggi kepada RSUD Gemolong, sementara jumlah tempat tidur sangat terbatas karena berkurang. Hal ini menjadi tantangan bagi RSUD karena banyak pasien yang tidak mau dirujuk ke rumah sakit lain.
“Ini memang tantangan besar, karena memang semua harus standar, mutu tidak boleh turun, sementara kenaikan kepercayaan masyarakat yang tetap pingin dirawat di sini itu menjadi sangat tinggi. Sehingga kami harus melakukan inovasi-inovasi yang sangat berat untuk pelayanan ini,” ujarnya.
Salah satu inisiatif ang dilakukan oleh RSUD dalah dengan menerapkan IT untuk memangkas semua prosedur, jadi tidak boleh ada pasien menunggu terlalu lama. Saat ini, RSUD dr. Soeratno Gemolong sudah menerapkan sistem pendaftaran secara online serta menyediakan layanan antar obat ke rumah pasien untuk meminimalisir antrian di apotek, terutama bagi pasien yang sudah tua atau anak-anak yang rewel.
“(Pasien) cukup menyampaikan alamatnya di mana, nanti obatnya akan kami antarkan secara gratis ke rumahnya masing-masing. Dan Alhamdulillah ini sangat diterima masyarakat selalu kadang-kadang petugas kami sekarang punya dua petugas khusus untuk mengantar itu, kadang-kadang sampai jam 10 malam baru selesai mengantar obat ke pasien,” tandasnya.
Bagian dari inovasi lainnya, RSUD dr. Soeratno Gemolong juga memiliki layanan Home Care yang disebut berbeda dengan layanan yang ditawarkan rumah sakit lain yang biasanya berorientasi bisnis.
“Kami juga (punya) layanan Home Care, tetapi kami gratis. Kenapa (karena) yang menentukan beda, bukan pasien kaya raya yang ingin dibesuk, tetapi kami betul-betul benefit yang kami butuhkan. (Untuk layanan) ini kami kerja sama dengan dokter penanggung jawab pasien (DPJP), dokter penanggung jawab pasienlah yang menentukan pasien mana yang akan di home care,” ujarnya.
Contohnya, lanjut dr. Kinik, banyak pasien itu yang kadang-kadang kondisinya kesakitan tetapi begitu dia sampai harus nyewa mobil untuk bisa periksa ke sini (rumah sakit), sampai di sini hanya diperiksa 10 menit oleh dokter dengan effort yang begitu berat. “Akhirnya kami pikir kasihan pasien itu, lebih baik petugas kami yang datang ke rumahnya untuk memeriksa kemudian dilaporkan ke spesialis kemudian obatnya di antarkan oleh petugas kami namanya SOBAT (Sahat Pengantar Obat),” kata dr. Kinik.
Masih berkaitan dengan layanan, untuk mengetahui sejauh mana kepuasan pelanggan terhadap layanannya, RSUD dr. Soeratno Gemolong juga telah melakukan survey kepuasan pelanggan.
“Alhamdulillah kalau kita masuk ke kinerja layanan pelanggan, survey kepuasan pelanggan kita itu naik terus dari 2021 sampai 2023 menjadi 87. Kemudian penyelesaian complain itu semakin turun, kemudian kita rating juga naik terus menerus Google Rating dari dulu 1,3 menjadi 4,5. Dan ini kesan dari BPJS, mayoritas pasien kita itu 90% adalah BPJS, dan BPJS sekarang punya aplikasi sendiri yang setiap pasien disuruh membuat rating (meraing kita), kita ada di 4,8, ini adalah nilai tertinggi di Solo Raya 4,8 ini,” ungkap dr. Kinik.
Tidak ketinggalan, bicara inovasi, RSUD dr. Soeratno Gemolong juga memiliki terobosan yang disebut sebagai AISHA yang terus ditambah dan diperkaya kemampuannya.
“Sekarang semua bisa belajar melalui AISHA karena kami benamkan melalui WA (WhatsApp) itu informasi up to date, kami memakai AI, baik dari Microsoft maupun dari Google, sehingga dokter bisa ngecek langsung misalnya apakah ada interaksi antar obat ini dengan ini, kemudian edukasi apa yang paling tepat untuk pasien ini, semua bisa dalam hitungan detik sudah sampai,” jelasnya.
Belum tuntas sampai di situ, melalui AISHA juga, RSUD dr. Soeratno Gemolong menjadi juara di tingkat tingkat kabupaten, provinsi, dan mengantarkan Kabupaten Sragen menjadi kabupaten paling inovatif.
“Di sini kami punya tiga, (ada) AISHA untuk pasien (masyarakat), untuk pegawai, dan untuk direksi. Karena masing-masing data itu sensitif, jadi semua tidak bisa mengakses semua data, kami batasi sesuai kewenangan dan keperluannya masing-masing,” pungkasnya.
Editor: Busthomi
